Mimbar Hindu: Refleksi Ilmu dan Etika dalam Cahaya Saraswati dan Pagerwesi

  • 10 Apr 2026 09:58 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Program Mimbar Hindu di Pro1 RRI Malang mengangkat tema “Ilmu dan Etika, Cahaya Saraswati dan Pagar Pagerwesi dalam Kehidupan Modern”, menghadirkan narasumber Prof. Dr. Eng. Ir. I Made Wartana, M.T.

Dalam pemaparannya, Prof. Wartana menjelaskan bahwa umat Hindu baru saja memperingati Hari Suci Pagerwesi yang jatuh pada Rabu Kliwon, Wuku Shinta, yang dirayakan setiap 210 hari sekali. Peringatan ini memiliki keterkaitan erat dengan Hari Suci Saraswati yang sebelumnya dirayakan pada Sabtu 4 April 2026

“Hari Saraswati dimaknai sebagai turunnya ilmu pengetahuan suci, sedangkan Pagerwesi merupakan momentum untuk membangun dan memperkuat spiritualitas,” ujar Prof. Wartana saat dikonfirmasi pada Kamis (9/4/2026).

Ia menambahkan, kedua hari suci tersebut menjadi ruang refleksi bagi umat manusia, khususnya dalam menghadapi tantangan kehidupan modern yang semakin kompleks.

Menurutnya, manusia saat ini hidup pada era Kaliyuga, yang dikenal sebagai zaman kegelapan moral dan spiritual. Kondisi ini ditandai dengan meningkatnya konflik, kekerasan, kebohongan, serta melemahnya tatanan sosial, di mana kekuasaan dan materi kerap menjadi penentu.

“Era transformasi digital mempercepat akses informasi, tetapi di sisi lain juga berpotensi mempercepat degradasi etika dan spiritualitas jika tidak disaring dengan baik,” jelasnya.

Dalam konteks tersebut, Prof. Wartana menekankan pentingnya memahami makna Dewi Saraswati sebagai simbol ilmu pengetahuan (widya) yang mampu mengusir kebodohan (awidya).

“Ilmu hendaknya dijadikan jalan menuju kebijaksanaan. Belajar harus dilandasi niat suci untuk membangun, serta disadari bahwa teknologi hanyalah sarana, bukan tujuan,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Pagerwesi berasal dari kata “pagar” dan “wesi” yang berarti besi, sebagai simbol perlindungan diri dari pengaruh negatif. Setelah memperoleh ilmu pengetahuan, manusia diharapkan mampu menjaga dan mengendalikan diri.

“Atma dapat menjadi sahabat sekaligus musuh bagi diri sendiri. Ilmu tanpa pengendalian diri justru bisa menjadi racun,” tegasnya.

Ia menambahkan, Pagerwesi mengingatkan pentingnya membangun “pagar spiritual” agar ilmu tidak disalahgunakan. Dalam hal ini, dharma atau kebenaran menjadi landasan utama dalam setiap pengambilan keputusan.

“Ilmu tanpa etika dapat menghancurkan. Karena itu, etika menjadi pagar yang menjaga agar ilmu dimanfaatkan secara bijaksana,” katanya.

Sebagai penutup, Prof. Wartana mengibaratkan hubungan antara Saraswati dan Pagerwesi sebagai dua hal yang tidak terpisahkan. Ia mengatakan bahwa Ilmu adalah cahaya yang menerangi jalan kehidupan.

“Namun tanpa pagar spiritual, seseorang akan mudah tergelincir. Keduanya harus berjalan beriringan dalam diri setiap individu,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....