Melalui PKN, Nilai Bhineka Tunggal Ika Bisa Diterapkan di Kehidupan Sehari-Hari

  • 07 Apr 2026 13:13 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang- Nilai Bhinneka Tunggal Ika tetap memiliki relevansi yang sangat kuat dalam kehidupan masyarakat Indonesia saat ini, terutama di tengah keberagaman suku, budaya, bahasa, dan agama yang menjadi ciri khas bangsa. Dalam talkshow SPADA di Pro 2 RRI Malang, guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKN), Shintia Rachmayanti, menegaskan pentingnya pemahaman nilai tersebut bagi generasi muda. Ia menyampaikan bahwa makna Bhinneka Tunggal Ika sendiri sebenarnya cukup beragam, namun untuk memudahkan anak-anak agar gampang diingat. "Saya selalu menjelaskan artinya berbeda-beda tapi tetap satu. Penekanan ini menunjukkan bahwa esensi persatuan dalam keberagaman harus ditanamkan sejak dini agar menjadi bagian dari karakter generasi muda," ungkapnya, Senin, (6/4/2026)

Di tengah derasnya arus digitalisasi, tantangan dalam menanamkan nilai persatuan semakin kompleks. Informasi yang masif dan tanpa batas dapat memengaruhi pola pikir serta perilaku anak muda, yang cenderung menjadi lebih individualis. Kondisi ini berpotensi memunculkan sikap diskriminatif terhadap individu atau kelompok yang berbeda. Shintia mengingatkan bahwa tanpa pemahaman yang kuat tentang toleransi, generasi muda bisa kehilangan jati diri sebagai bangsa yang menjunjung tinggi persatuan. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang lebih mendalam dan relevan agar nilai Bhinneka Tunggal Ika tidak hanya dipahami secara teoritis, tetapi juga dihayati dalam kehidupan sehari-hari.

Peran mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) menjadi sangat vital dalam menjawab tantangan tersebut. Shintia menekankan bahwa pendidikan tidak cukup hanya berfokus pada penyampaian teori, melainkan juga harus menyentuh aspek praktik dan pengalaman langsung. "Dalam pembelajaran, saya menggunakan pendekatan yang kontekstual dan interaktif, agar siswa tidak hanya memahami, tetapi juga merasakan pentingnya nilai-nilai tersebut.” Melalui metode ini, siswa diajak untuk mempraktikkan sikap sopan santun, menggunakan bahasa yang baik, serta mengenal dan menghargai budaya seperti lagu daerah dan tradisi lokal," tambahnya.

Lebih lanjut, Shintia menegaskan bahwa menjaga persatuan tidak selalu harus melalui tindakan besar, melainkan dapat dimulai dari hal-hal sederhana yang dilakukan secara konsisten. “Anak muda bisa mempraktikkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, seperti saling menghormati, menghargai perbedaan, dan menjaga sikap,” ujarnya. Kebiasaan kecil yang dilakukan secara terus-menerus akan membentuk karakter yang kuat dan berkontribusi dalam menjaga keutuhan bangsa. Dengan demikian, generasi muda diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang tidak hanya adaptif terhadap perkembangan zaman, tetapi juga tetap berpegang teguh pada nilai persatuan dalam keberagaman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....