Nasib Nelayan Pasuruan Terhimpit Harga Sembako yang Naik

  • 06 Apr 2026 14:35 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang- Meskipun saat ini nelayan di Kota Pasuruan tengah menikmati masa panen ikan kembung, tekanan ekonomi justru datang dari melonjaknya harga kebutuhan pokok di pasar. Kenaikan harga sembako yang tidak sebanding dengan harga jual ikan hasil tangkapan membuat daya beli keluarga nelayan tetap rendah. Kondisi ini menciptakan ironi di mana melimpahnya ikan tidak serta-merta meningkatkan kesejahteraan mereka secara signifikan karena pengeluaran rumah tangga yang terus membengkak.

Ahmad Gatot Hartowo, Ketua Rukun Nelayan Kota Pasuruan menyoroti bahwa harga ikan sering kali anjlok drastis ketika pasokan sedang melimpah, sementara harga barang kebutuhan sehari-hari tidak pernah ikut turun. Hal ini sangat memberatkan, terutama bagi nelayan yang hasil tangkapannya didominasi oleh ikan kualitas rendah yang hanya laku dijual ke pabrik tepung dengan harga sangat murah. "Lagi musim pendapatannya memang masih ada, tapi kalau sedang tidak musim harga ikan rendah, ikan tepungan hanya Rp4.000 per kg, kasihan nelayannya karena harga sembako ikut naik," jelasnya dalam dialog Malang Menyapa di Pro 1 RRI Malang, Senin (6/4/2026)

Situasi ekonomi nelayan semakin terjepit dengan fluktuasi harga bahan bakar yang menjadi komponen biaya operasional terbesar setiap kali melaut. Gatot menambahkan bahwa pendapatan yang didapat dari melaut sering kali habis hanya untuk menutup modal solar dan membeli bahan pangan harian, sehingga hampir tidak ada sisa untuk tabungan masa depan. Ketidakpastian harga jual di pasaran ini menjadi tantangan berat yang harus dihadapi nelayan di tengah keterbatasan akses terhadap program bantuan pemerintah yang sejauh ini dirasa masih minim.

Ke depannya, para nelayan berharap pemerintah tidak hanya fokus pada bantuan alat tangkap, tetapi juga mampu menjaga kestabilan harga pangan dan pasokan energi bersubsidi. Kesejahteraan nelayan sangat bergantung pada intervensi pemerintah dalam memutus rantai distribusi yang merugikan dan memastikan kuota solar tetap tersedia dengan harga terjangkau. "Harapan kami di Hari Nelayan ini adalah kuota solar jangan sampai dikurangi, asalkan peralatan dan BBM aman, kami bisa sedikit bernapas di tengah kenaikan harga barang lainnya," pungkas Gatot.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....