Halal Bihalal, Momentum Mempererat Kekeluargaan dalam Semangat Kemenangan

  • 03 Apr 2026 15:03 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Tradisi halal bihalal kembali menjadi momentum penting bagi masyarakat Indonesia pasca Hari Raya Idulfitri. Namun di tengah rutinitas yang terus berulang setiap tahun, makna halal bihalal kerap bergeser menjadi sekadar formalitas. Padahal, esensi utamanya adalah membangun kembali hubungan yang sempat renggang serta membersihkan hati dari berbagai prasangka dan konflik antar sesama.

Ustadz Drs. H. Moh Rosyad, M.Si menegaskan, halal bihalal seharusnya tidak berhenti pada simbol berjabat tangan dan ucapan maaf di bibir semata. “Sekarang ini halal bihalal seringkali hanya menjadi rutinitas. Padahal, kalau di dalam hati masih ada dendam, dengki, dan marah, maka makna halal bihalal itu tidak benar-benar sampai,” ujarnya.

Ia menjelaskan, dalam ajaran Islam, kesalahan antar manusia tidak bisa dihapus hanya dengan ibadah kepada Allah SWT. Berbeda dengan dosa kepada Allah yang dapat diampuni melalui ibadah seperti puasa, serta dosa terkait harta yang dapat dibersihkan melalui zakat, dosa kepada sesama manusia harus diselesaikan dengan saling memaafkan secara langsung. “Kalau tidak ada saling memaafkan, maka manusia akan rugi. Karena dosa kepada sesama itu tidak akan hilang kecuali dengan meminta maaf kepada yang bersangkutan,” jelasnya.

Lebih lanjut, Ustadz Rosyad juga mengingatkan bahwa halal bihalal bukanlah ajaran yang secara khusus diperintahkan dalam Islam, melainkan tradisi khas Indonesia yang lahir dari kebutuhan sosial. Sejak tahun 1924, organisasi Muhammadiyah telah menggagas halal bihalal sebagai sarana mempertemukan masyarakat dalam satu forum untuk saling bersilaturahmi dan bermaaf-maafan. Bahkan, tradisi ini juga pernah dimanfaatkan sebagai sarana memperkuat persatuan dalam persiapan kemerdekaan Indonesia.

Menurutnya, nilai utama dari halal bihalal adalah mempererat tali silaturahmi, yang diyakini menjadi salah satu jalan untuk membuka keberkahan rezeki dan kehidupan. “Kalau kita ingin hidup diberkahi, maka salah satu jalannya adalah menjaga dan menjalin silaturahim. Halal bihalal ini menjadi momen yang sangat tepat untuk itu,” tambahnya.

Ia pun mengajak masyarakat untuk kembali menghayati makna Idulfitri secara utuh, tidak hanya sebagai perayaan, tetapi juga sebagai titik awal perubahan diri. “Minal aidin wal faidzin itu artinya kita kembali suci dan menang melawan hawa nafsu. Sementara ‘Taqaballahu minna wa minkum’ adalah doa agar semua amal ibadah kita diterima oleh Allah. Jadi, mari kita jadikan halal bihalal sebagai momentum membersihkan hati, memperbaiki hubungan, dan memperkuat persaudaraan,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....