Budayawan Soroti Pergeseran Tradisi Lebaran di Masyarakat
- 28 Mar 2026 09:51 WIB
- Malang
KBRN,Malang: Lebaran yang dulu identik dengan suasana ramai dan penuh kunjungan kini dinilai mulai mengalami perubahan di tengah masyarakat. Tradisi silaturahmi dari rumah ke rumah yang dahulu menjadi ciri khas Idulfitri disebut tidak lagi seintens dulu.
Budayawan sekaligus penggagas Kampung Budaya Polowijen, Ki Demang, menilai ada sejumlah pergeseran dalam pola sosial masyarakat saat merayakan Lebaran.
Menurutnya, pada masa lalu setelah melaksanakan salat Id, masyarakat biasanya langsung berkeliling kampung untuk bersilaturahmi dengan tetangga dan keluarga.
“Dulu setelah salat Id orang-orang langsung keliling kampung, dari rumah ke rumah, salaman, makan bersama, bahkan sampai sore masih ramai tamu,” ujar Ki Demang saat di wawancarai oleh RRI Malang. Sabtu(28/03/2026).
Namun saat ini, tradisi tersebut mulai berkurang. Banyak orang merasa suasana Lebaran tidak lagi seramai dulu, karena silaturahmi spontan di lingkungan kampung semakin jarang terjadi.
Ki Demang menilai salah satu tradisi yang paling terasa pergeserannya adalah sungkeman. Pada masa lalu, prosesi sungkem dilakukan dengan penuh tata krama, di mana anak-anak bersimpuh di hadapan orang tua sambil menyampaikan permohonan maaf dengan kalimat yang tertata dan penuh penghormatan.
“Sekarang sering kali hanya bertemu di pintu, salaman sambil berdiri, lalu langsung pergi. Bahkan setelah salat Id, salam-salaman itu sudah dianggap selesai sebagai momen saling memaafkan, padahal sebenarnya masih ada kelanjutannya di rumah seperti silaturahmi dan sungkeman,” jelasnya.
Selain itu, perkembangan teknologi juga turut mempengaruhi cara masyarakat bersilaturahmi. Jika dulu orang harus datang langsung untuk bertemu keluarga atau kerabat, kini banyak yang memilih mengirim pesan singkat melalui aplikasi komunikasi.
| Baca juga: Keindahan Flora Nusantara di Balik Rupiah |
“Memang sekarang ada kemudahan lewat WhatsApp untuk saling bertukar pesan. Tapi akhirnya tradisi sungkeman itu terasa lebih seremonial dan kurang ada ruhnya,” tambah Ki Demang.
Meski demikian, ia menilai tradisi sungkeman sebenarnya belum sepenuhnya hilang. Menurutnya masih ada sebagian kelompok masyarakat yang tetap mempertahankan budaya tersebut dalam keluarga mereka.
“Memang tidak semua orang melakukannya sekarang, tapi masih ada kelompok-kelompok kecil yang tetap melanjutkan tradisi sungkeman sebagai bagian dari budaya,” katanya.
Perubahan juga terlihat pada kegiatan halal bihalal yang kini banyak dikemas lebih modern. Menurut Ki Demang, acara halal bihalal saat ini terkadang juga menjadi ajang menunjukkan pencapaian atau status sosial.
“Sekarang halal bihalal kadang dijadikan ajang pamer. Ada yang traktir di tempat-tempat tertentu, pakai dress code, bahkan menunjukkan pencapaian masing-masing. Kadang juga ada yang terkesan dipaksakan,” ujarnya.
Meski begitu, ia menilai kegiatan tersebut tetap memiliki sisi positif karena dapat menjadi sarana mempertemukan keluarga yang jarang bertemu.
“Ini sebenarnya juga bagus karena menjadi ajang pertemuan keluarga supaya tidak sampai ‘paten obor’, istilahnya hubungan antar keluarga menjadi renggang,” jelasnya.
Ki Demang menambahkan, perubahan tradisi Lebaran merupakan hal yang wajar seiring perkembangan zaman. Namun menurutnya, nilai utama dari perayaan Idulfitri tetap perlu dijaga, yaitu mempererat silaturahmi dan saling memaafkan antar sesama.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....