Fenomena Resign Setelah THR Jadi Perbincangan Publik

  • 13 Mar 2026 07:25 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang- Jagat media sosial belakangan ramai membahas isu gelombang pengunduran diri atau resign yang disebut-sebut akan terjadi menjelang maupun setelah pencairan Tunjangan Hari Raya (THR). Perbincangan ini mencuat setelah sejumlah unggahan di platform X menyebut banyak pekerja mempertimbangkan untuk keluar dari pekerjaan mereka dalam waktu dekat. Unggahan tersebut memicu berbagai tanggapan dari warganet. Sebagian menilai resign sebelum menerima THR sebagai langkah yang cukup berisiko, sementara lainnya berpendapat keputusan tersebut sangat bergantung pada kondisi pekerjaan serta rencana karier masing-masing individu.

Meski ramai dibicarakan, hingga saat ini fenomena tersebut masih sebatas percakapan di media sosial dan belum disertai data resmi yang menunjukkan adanya gelombang pengunduran diri secara masif. Namun demikian, fenomena pekerja yang memilih resign setelah THR cair kerap menjadi perhatian publik setiap menjelang dan setelah momen Lebaran. Kondisi ini sering dikaitkan dengan evaluasi karier yang dilakukan pekerja setelah menerima hak tahunan mereka.

Pengamat Ekonomi dari Universitas Sebelas Maret, Nurul Istiqomah, menilai keputusan untuk resign setelah Lebaran sebenarnya bukan pilihan yang sepenuhnya aman, terutama jika pekerja belum memiliki kepastian pekerjaan baru. Menurutnya, keputusan tersebut akan lebih bijak apabila seseorang telah memiliki rencana karier yang jelas atau bahkan sudah mendapatkan tempat kerja baru yang akan dimulai setelah Lebaran.

Ia menjelaskan, alasan seseorang memutuskan resign setelah THR cair bisa beragam. Salah satunya karena pekerja merasa kemampuan atau kontribusi yang dimiliki tidak sebanding dengan pendapatan yang diterima sehingga memilih mencari peluang yang lebih baik. Selain itu, faktor sosial juga dapat memengaruhi keputusan tersebut. Tekanan sosial saat momen Lebaran, seperti pertanyaan seputar pekerjaan dari keluarga atau kerabat, kerap membuat seseorang memilih bertahan sementara waktu hingga hari raya usai. Ia menambahkan, fenomena ini juga dapat berdampak pada perusahaan, terutama dalam hal perencanaan tenaga kerja, biaya pelatihan, serta pengembangan keterampilan karyawan. Karena itu, perusahaan dinilai perlu menyediakan jalur pengembangan karier yang jelas agar karyawan tetap bertahan dalam jangka panjang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....