Puasa Ramadan Momentum Melatih Kejujuran

  • 06 Mar 2026 07:04 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Bulan Ramadan tidak hanya menjadi momentum menahan lapar dan dahaga, tetapi juga waktu untuk memperbaiki akhlak dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu nilai penting yang dilatih melalui ibadah puasa adalah kejujuran. Dalam kehidupan sosial, sikap jujur menjadi dasar terciptanya kepercayaan dan keharmonisan antar manusia. Karena itu, puasa tidak sekadar ibadah fisik, tetapi juga sarana pembinaan karakter agar seseorang mampu menjaga lisan, sikap, dan perbuatannya dari hal-hal yang tidak baik.

Ustadzah Supraptiningsih, S.Ag., M.Pd., menjelaskan bahwa tujuan utama puasa adalah membentuk manusia yang bertakwa kepada Allah SWT. Ketakwaan tersebut menjadi puncak akhlak dalam diri seseorang, karena dengan takwa manusia berusaha kembali pada fitrahnya sebagai pribadi yang bersih dan selalu rindu melakukan kebaikan. “Tujuan puasa adalah menjadikan manusia itu bertakwa. Puncak dari akhlak tertinggi dalam diri seseorang adalah takwa itu sendiri, karena dengan takwa seseorang bisa kembali pada fitrahnya, selalu rindu dengan kebaikan dan bahagia saat melakukan kebenaran,” ujarnya dalam Mutiara Pagi, Jumat (6/3/2026).

Menurutnya, salah satu tanda orang yang bertakwa adalah memiliki kejujuran dalam perkataan maupun perbuatan. Sikap jujur tercermin dalam berbagai aspek kehidupan, seperti menepati janji, tidak menipu, tidak berkhianat, serta bersikap adil dalam bermuamalah. Bahkan dalam aktivitas ekonomi seperti jual beli, seorang yang jujur tidak akan mengurangi timbangan atau takaran. “Seseorang yang jujur akan selalu menampilkan diri apa adanya, tidak dibuat-buat dan tidak menghadirkan kepalsuan. Ia berusaha jujur dalam perkataan, perbuatan, dan dalam bermuamalah dengan orang lain,” jelasnya.

Puasa juga menjadi latihan untuk menahan diri dari berbagai perbuatan tercela yang dapat merusak nilai ibadah. Selain menahan lapar dan dahaga, umat Islam diajak menjauhi perilaku seperti berbohong, memfitnah, menipu, berkata kotor, mencaci maki, hingga membuat keributan atau berkelahi. Perbuatan tersebut memang tidak selalu membatalkan puasa, tetapi dapat mengurangi pahala yang diperoleh. “Puasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih kita menjauhi perbuatan tercela yang dilarang. Kejujuran akan membawa kepada kebaikan dan kebaikan akan membawa ke surga, karena itu katakanlah kebenaran walaupun pahit, tetapi tetap disampaikan dengan cara yang baik,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....