Difabel Berdaya Bangun Kemandirian Lewat SLB

  • 03 Mar 2026 10:44 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang – Difabel bukanlah kekurangan, melainkan potensi yang bisa dikembangkan. Cara pandang inilah yang dipegang teguh oleh SLB Bhakti Luhur Malang dalam mendidik anak berkebutuhan khusus agar tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan percaya diri. Kepala Sekolah SLB Bhakti Luhur Malang, Sr. Yohana Fransiska Mai Muri, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa konsep difabel berdaya berangkat dari penerimaan dan kasih sayang. “Difabel itu bukan kekurangan, tetapi apa yang bisa dikembangkan. Kalau anak-anak sudah diterima dan dicintai, mereka punya kesempatan untuk mengembangkan minat, potensi, dan bakatnya untuk berkarya. Ketika mereka berkarya, mereka akan diterima masyarakat,” ujarnya dalam Dialog Malang Siang Ini Pro 1 RRI Malang, Senin (3/3/2026).

Menurutnya, makna difabel berdaya tidak hanya berhenti pada kemandirian fisik. Lebih dari itu, anak-anak juga perlu dibangun kemandirian emosional dan sosial. “Bukan hanya bisa bergerak sendiri. Anak-anak perlu mandiri secara emosional, mampu mengelola perilaku, dan percaya diri saat berada di tengah masyarakat. Itu yang kami bentuk secara bertahap,” jelasnya.

Dalam merancang visi pendidikan, Sr. Yohana menekankan bahwa SLB tidak semata-mata mengejar capaian akademik. Tahap pertama yang menjadi prioritas adalah kemandirian pribadi. “Fokus pertama kami adalah membantu anak agar bisa menolong dirinya sendiri, seperti makan dan mandi sendiri. Kalau sudah mampu, baru lanjut ke pembentukan perilaku dan akademik,” katanya. Ia mencontohkan penanganan pada anak dengan autisme yang memerlukan pendekatan khusus sebelum masuk ke proses belajar. “Misalnya anak autis, kalau dia sudah tenang maka dia bisa belajar. Tapi kalau belum tenang, kita tidak bisa memaksakan akademik. Semua ada tahapannya,” tuturnya.

Sr. Yohana juga menegaskan bahwa setiap anak memiliki potensi unik yang perlu digali, meskipun kemampuan akademiknya terbatas. “Ada anak yang duduk di kursi roda dan tidak bisa bicara, tetapi tangannya bagus. Maka kami beri pelatihan yang menggunakan tangannya. Jadi tetap ada ruang untuk berkembang,” ungkapnya. Setelah kemandirian pribadi terbentuk, sekolah kemudian mengarahkan siswa pada keterampilan vokasional sesuai bakat dan minat masing-masing. “Pertama kemandirian pribadi, baru keterampilan. Di sekolah kami, anak-anak dilatih berbagai macam vokasi,” jelasnya. Pelatihan yang diberikan beragam, mulai dari membuat bakso dan minuman, melukis, membuat telur asin, menjahit, sablon, membordir, hingga keterampilan salon, membatik, dan membuat pangsit. Tujuannya, agar siswa memiliki bekal keterampilan yang bisa dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari maupun peluang ekonomi.

Selain layanan pendidikan SLB dari kelas 1 hingga SMA yang dilanjutkan dengan keterampilan, yayasan juga menyediakan terapi, asrama bagi siswa dari luar Kota Malang, serta bengkel kursi roda. Untuk pendidikan reguler, tersedia jenjang TK hingga perguruan tinggi di bawah naungan yayasan. “Harapan kami, anak-anak ini bisa mandiri sesuai kapasitasnya. Tidak harus sama dengan anak lain, tetapi mampu menjalani hidupnya dengan percaya diri dan bermartabat,” pungkasnya. Melalui pendekatan berbasis penerimaan dan pengembangan potensi, semangat difabel berdaya di SLB Bhakti Luhur Malang diharapkan menjadi langkah nyata membangun kemandirian anak berkebutuhan khusus di tengah masyarakat.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....