SLB Bhakti Luhur Tangani Autis Terstruktur
- 03 Mar 2026 10:39 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang – Pendekatan terstruktur dan individual menjadi kunci penanganan anak dengan spektrum autisme di SLB Bhakti Luhur Malang. Setiap anak dipetakan sesuai kemampuan dan kondisi emosionalnya agar proses belajar berjalan efektif.
Guru Kelas Autis SLB Bhakti Luhur Malang, Yustina, menjelaskan bahwa tidak ada satu metode yang bisa diterapkan untuk semua anak. “Setiap anak autis pendekatannya berbeda. Kami mengenali dulu emosionalnya, perilakunya, dan bakatnya. Prosesnya tidak gampang, karena perilaku anak tiap hari bisa berubah,” ujarnya kepada RRI, Senin (2/3/2026). Untuk memudahkan pembelajaran, siswa dikelompokkan berdasarkan kemampuan. “Ada yang sudah mampu, setengah mampu, dan ada yang kurang konsentrasi. Mereka punya tempat masing-masing. Supaya anak yang emosinya tinggi tidak mengganggu teman lainnya,” jelasnya.
Pembelajaran di kelas autis dibuat tertata dan terstruktur. Salah satu metode utama adalah penggunaan simbol atau gambar sebagai alat komunikasi, terutama bagi anak yang belum mampu berbicara. “Kalau mau ke kamar mandi, anak akan mengambil gambar kamar mandi. Dari simbol itu mereka mengerti apa yang harus dilakukan,” katanya. Di setiap kelas tersedia papan jadwal bergambar. Anak mengambil sendiri urutan kegiatan harian agar memahami rutinitas. Menurut Yustina, konsistensi dan rutinitas sangat penting dalam melatih kemandirian anak autis. “Sangat penting supaya mereka bisa melakukan kegiatan sehari-hari secara terstruktur. Di rumah pun sebaiknya ada papan jadwal seperti di sekolah,” ujarnya.
Bagi anak dengan konsentrasi sangat rendah, sekolah menyediakan pendampingan penuh. Sedangkan untuk anak dengan emosi berat, guru lebih dahulu melakukan pendekatan relaksasi. “Kalau emosinya sedang berat, kami bawa relaksasi dulu supaya hatinya damai. Setelah reda, baru masuk pembelajaran,” tuturnya. Untuk melatih kemampuan dasar seperti makan sendiri, berpakaian, hingga berinteraksi sosial, guru menggunakan media visual dan interaktif. “Kami pakai gambar, buku cerita bergambar, video interaktif, dan game supaya anak lebih mudah memahami,” jelasnya.
Dalam membangun kepercayaan diri, Yustina menekankan pentingnya kedekatan emosional. “Kami mendampingi mereka seperti anak sendiri, seperti teman dekat. Kalau anak merasa diterima, dia tidak mudah frustrasi dan lebih berani mencoba,” katanya. Peran orang tua juga dinilai sangat menentukan keberhasilan latihan kemandirian. Sekolah rutin berkomunikasi dengan orang tua saat antar jemput siswa. “Walaupun orang tua sibuk, kami sempatkan ngobrol tentang kejadian hari ini dan apa yang perlu dilanjutkan di rumah,” ujarnya.
SLB Bhakti Luhur Malang menangani berbagai jenis ketunaan, baik fisik maupun mental, dengan sekitar 70 guru dan 300 siswa. Sejumlah siswa berasal dari luar Jawa dan tinggal di asrama. “Semua kondisi kami terima. Masing-masing ada tempatnya dan ada caranya sendiri,” pungkas Yustina. Melalui pendekatan terstruktur, konsisten, dan penuh kesabaran, SLB Bhakti Luhur Malang berupaya membantu anak autis tumbuh lebih mandiri dan percaya diri dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....