Bedah Buku Puasa Bicara dan Narasi Gurunda

  • 26 Feb 2026 13:59 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang- Kegiatan bedah buku Puasa Bicara dan Narasi Gurunda berlangsung hangat di Radio Republik Indonesia Malang, Rabu (25/2/2026). Acara yang disiarkan melalui kanal rri malang official ini menghadirkan dua penulis, yakni Mashudi Abu Haidar, LC dan Jihan Mawaddah, S.Pd, serta pembedah buku Panjilmo Putro, S.Pd., M.Si. Diskusi dipandu host Fira dan Diba dengan suasana interaktif dan penuh refleksi.

Dalam pemaparannya, Mashudi Abu Haidar menjelaskan bahwa Puasa Bicara mengangkat pesan tentang amal yang kelak akan menjadi saksi di akhirat. “Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi membangun kesadaran jiwa bahwa setiap amal akan berbicara,” katanya. Ia menjelaskan buku tersebut disusun dalam empat bab yang membahas ketundukan makhluk kepada Allah, kisah-kisah inspiratif, hingga keutamaan puasa sebagai perisai dari api neraka.

Sementara itu, Jihan Mawaddah memaparkan latar belakang penulisan Narasi Gurunda yang merupakan novelisasi biografi sang ayah, KH. Ahmad Taufiq Kusuma. Buku yang telah dua kali naik cetak pada 2019 dan 2020 itu terdiri dari 11 bab yang mengisahkan perjuangan hidup, kesederhanaan, serta kegigihan tokoh sejak masa kecil hingga usia senja. “Saya ingin menghadirkan biografi dengan bahasa yang sederhana dan menyenangkan agar mudah diterima pembaca,” jelasnya.

Pembedah buku, Panjilmo Putro, memberikan apresiasi sekaligus catatan konstruktif terhadap kedua karya tersebut. Ia menilai Puasa Bicara memiliki pesan spiritual yang kuat, sementara Narasi Gurunda unggul dalam kekuatan narasi dan desain visual. “Cover Narasi Gurunda seperti lukisan dan ada lembar peruntukan pembaca di awal, itu menarik,” ungkapnya. Namun ia juga menyebut beberapa aspek teknis yang bisa disempurnakan agar karya semakin kokoh secara akademik dan struktural.

Melalui bedah buku ini, RRI Malang menghadirkan ruang literasi yang tidak hanya membahas isi buku, tetapi juga menggali nilai keteladanan, spiritualitas, dan perjuangan hidup. Diskusi ini diharapkan mampu mendorong minat baca masyarakat sekaligus memperkaya khazanah literasi lokal. “Literasi harus terus dihidupkan karena dari buku kita belajar makna kehidupan,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....