KKN Tematik UMM Sinau Mocopat DiKampung Budaya Polowijen
- 08 Feb 2026 18:42 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang – Mahasiswa KKN Tematik UMM Berdampak 2026 Kelompok 14 terlibat aktif dalam upaya pelestarian tembang macapat Jawa di Kampung Budaya Polowijen (KBP), Kota Malang. Keterlibatan ini menjadi bagian dari proses pembelajaran budaya sekaligus penguatan peran generasi muda dalam menjaga warisan budaya tak benda.
Kegiatan sinau tembang macapat dilaksanakan secara intensif setiap Jumat dan Sabtu malam selama masa KKN berlangsung di KBP. Proses pembelajaran dipandu langsung oleh dua pelaku seni budaya setempat, Ki Surjono dan Ki Sutono, yang selama ini konsisten menghidupkan tradisi macapat di Polowijen.
Secara historis, kegiatan sinau tembang macapat di Kampung Budaya Polowijen telah berlangsung rutin setiap Jumat malam sejak tahun 2017. Aktivitas ini sempat terhenti selama kurang lebih dua tahun akibat pandemi Covid-19, kemudian kembali dihidupkan pada tahun 2023 dan terus berjalan hingga saat ini sebagai ruang belajar lintas generasi.
Macapat merupakan seni puisi tradisional Jawa yang ditembangkan dengan aturan tertentu, sarat makna filosofis tentang perjalanan hidup manusia sejak lahir hingga meninggal dunia. Sebagai warisan budaya tak benda, macapat tidak hanya berfungsi sebagai karya seni, tetapi juga menjadi media pendidikan moral, etika, dan spiritual yang relevan untuk diwariskan kepada generasi muda di tengah arus modernisasi.
Salah satu tembang yang dipelajari mahasiswa adalah tembang Pucung, yang memuat ajaran tentang pentingnya ilmu dan budi pekerti. Dalam penggalan tembang tersebut tersirat pesan bahwa ilmu hanya akan bermakna jika dijalani dengan laku, diawali niat kuat, dan diperkuat oleh kesetiaan budi pekerti sebagai penangkal sifat angkara murka.
Tembang macapat sendiri terdiri dari sebelas jenis yang menggambarkan fase kehidupan manusia, mulai dari Maskumambang, Mijil, Sinom, Kinanthi, Asmaradana, Gambuh, Dhandhanggula, Durma, Pangkur, Megatruh, hingga Pucung. Masing-masing tembang memiliki aturan baku berupa guru gatra, guru wilangan, dan guru lagu yang menjadi ciri khas sekaligus tantangan dalam proses pembelajarannya.
Dalam praktiknya, mahasiswa KKN menghadapi sejumlah kendala saat belajar macapat. Latar belakang daerah yang beragam, mulai dari Jawa Barat, Jakarta, Sumatra, Kalimantan, hingga Sulawesi, membuat sebagian mahasiswa mengalami kesulitan bahasa. Bahkan mahasiswa yang berasal dari Jawa pun rata-rata mengaku pernah belajar macapat saat sekolah dasar, namun banyak yang sudah lupa. Hanya satu dua mahasiswa yang masih mengingat dan hafal.
Salah satunya adalah Abu Bakar, mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM asal Probolinggo, yang kemudian turut membantu memandu teman-temannya dalam belajar tembang. Ia menilai macapat memiliki daya tarik tersendiri jika dipahami secara mendalam.
“Sebetulnya macapat itu menarik, maknanya sangat dalam. Tapi belajar macapat dasarnya memang harus suka, seperti belajar menyanyi,” ujar Abu Bakar, Senin (9/2/2026).
Ia juga menambahkan bahwa upaya memodifikasi syair macapat ke dalam bentuk musik populer mungkin dapat menarik minat anak muda, namun ada risiko hilangnya esensi macapat itu sendiri. “Kalau macapatnya diubah total, bisa jadi yang hilang justru macapatnya,” ungkapnya.
Sementara itu, Ki Demang Penggagas Kampung Budaya Polowijen, Isa Wahyudi, menegaskan bahwa Malang sesungguhnya memiliki ciri dan gaya tersendiri dalam tradisi macapat. Namun, kondisi tersebut kini berada dalam situasi yang mengkhawatirkan.
“Malang sudah banyak kehilangan tokoh macapat Malangan. Kalau tidak diajarkan sejak sekarang, lambat laun macapat Malangan akan punah,” tegasnya.
Ia mendorong Dinas Pendidikan dan Kebudayaan untuk segera menyusun naskah akademik dan mengajukan macapat Malangan sebagai Warisan Budaya Tak Benda ke Kementerian Kebudayaan RI, selagi masih ada pelaku yang kompeten.
Selain itu, Ki Demang juga menekankan pentingnya dokumentasi dan diseminasi macapat Malangan sebagai pegangan pembelajaran, serta perlunya pelatihan khusus bagi guru dan pelaku seni. Ia berharap macapat Malangan dapat diajarkan secara sistematis melalui kurikulum muatan lokal di sekolah-sekolah sebagai langkah konkret pelestarian.
Melalui keterlibatan mahasiswa KKN Tematik UMM Berdampak 2026, Kampung Budaya Polowijen kembali menegaskan posisinya sebagai ruang hidup kebudayaan, tempat tradisi tidak hanya dijaga, tetapi juga diwariskan melalui proses belajar bersama lintas generasi.(Mey)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....