Islamisasi Sosiologi Sebagai Pembumian Nilai Ilahiah Sosial

  • 04 Feb 2026 17:26 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Acara bedah buku Pengantar Studi Islamisasi Sosiologi yang digelar di Studio 1 RRI Malang, Selasa (3/2/2026). Kegiatan ini menghadirkan Dr. Arifin, M.Si., penulis buku sekaligus pengamat sosial, sebagai narasumber utama. Dalam pemaparannya, ia menekankan bahwa islamisasi sosiologi bukanlah upaya pemaksaan ideologi, melainkan proses pembumian nilai-nilai ilahiah dalam memahami realitas sosial yang terus berkembang di tengah masyarakat modern.

Dr. Arifin yang lahir di Lamongan dan meraih gelar doktor sosiologi di Universitas Brawijaya pada 2018 itu menjelaskan bahwa islamisasi memiliki makna menaturalisasi perspektif ideologis ke dalam ilmu sosial. “Islamisasi itu bukan memberi label agama pada ilmu, tetapi membumikan nilai wahyu agar ilmu tidak kering secara moral,” katanya.

Menurutnya, fenomena sosial dan kultur harus dibaca melalui spiritual quotient atau emosi religi agar tidak kehilangan arah kemanusiaannya.

Ia mengutip Al-Qur’an surat Al-A’raf yang menegaskan bahwa apa pun yang diketahui manusia dari hati dan pikirannya akan dimintai pertanggungjawaban. Ayat tersebut, ungkapnya, menjadi dasar bahwa pengetahuan tidak boleh bebas nilai. Norma, value, hubungan antarmanusia, kelompok sosial, hingga modernisasi harus diletakkan di atas fondasi Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup yang menjelaskan segala sesuatu.

Lebih jauh, Dr. Arifin menyampaikan bahwa Al-Qur’an tidak hanya menjadi teks normatif, tetapi juga sumber ibrah atau pelajaran sosial. “Kalau Al-Qur’an dipelajari dengan sungguh-sungguh, kita akan menemukan panduan membaca realitas sosial secara utuh,” jelasnya. Ia menilai bahwa ilmu pengetahuan yang dibangun tanpa sentuhan religi hanya akan melahirkan kecerdasan teknis tanpa kedalaman jiwa.

Menutup pemaparannya, Dr. Arifin menegaskan bahwa bukunya yang setebal 726 halaman tersebut disusun untuk menjembatani dimensi idealisme dan positivisme. “Dimensi idealisme itu jiwa manusia, sementara positivisme hanya casing-nya. Kalau casing tanpa jiwa, maka kosong,” pungkasnya

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....