Nuswantara Publishing Dorong Musisi Indie Berkarya Berkualitas
- 28 Jan 2026 09:06 WIB
- Malang
RRI.CO.ID - Berangkat dari kegelisahan para pelaku musik terhadap kualitas karya di era digital, Nuswantara Publishing hadir sebagai ruang kolaborasi sekaligus edukasi bagi musisi independen. Gagasan tersebut disampaikan dalam program Indies Time RRI Pro 2 Malang bertajuk “Antara Karya dan Publishing”, Selasa (28/1/2026), bersama Direktur Nuswantara Publishing Wawan, Talent Supervisor Dadang, dan Manager Publishing Iyan, dengan Irene Nathasya sebagai host.
Dadang mengungkapkan, proyek Nuswantara Publishing bermula dari latar belakang para penggagasnya yang sama-sama berkecimpung di dunia musik dan radio. Menurutnya, banyak musisi saat ini terlalu cepat merilis karya tanpa proses pendalaman yang matang, sehingga karakter musik belum terbentuk secara kuat.
“Kami ingin teman-teman musisi benar-benar belajar dari awal, memahami konsep bermusik, sampai akhirnya punya identitas yang jelas,” ujarnya.
Sejalan dengan itu, Wawan menilai tantangan terbesar industri musik di tahun 2026 adalah keseimbangan antara kecepatan distribusi dan kualitas karya. Kemudahan mempublikasikan lagu, kata dia, belum tentu diikuti dengan kesiapan artistik para musisi.
“Sekarang siapa pun bisa langsung rilis lagu. Tapi yang lebih penting adalah prosesnya, bagaimana karya itu dibangun sampai punya kualitas dan bisa diterima masyarakat,” kata Wawan.
Sementara itu, Iyan menekankan peran radio sebagai media kurasi sekaligus edukasi. Ia menjelaskan bahwa setiap lagu yang diputar melalui proses seleksi Music Director, sehingga standar kualitas tetap terjaga. Ditambah lagi, radio kini terintegrasi dengan berbagai platform digital seperti YouTube, streaming, hingga website, yang memungkinkan karya musisi menjangkau audiens lebih luas.
Melalui Nuswantara Publishing, para musisi tidak hanya didampingi dalam proses produksi, tetapi juga promosi, hearing session, hingga evaluasi karya. Pendampingan ini diharapkan mampu membangun konsistensi sekaligus kualitas bermusik.
Menanggapi fenomena banyaknya band indie yang tidak bertahan lama, Dadang menilai hal tersebut kerap dipicu oleh kurangnya konsistensi dan orientasi yang terlalu cepat pada keuntungan. Ia mengajak musisi untuk lebih fokus pada pendalaman musik serta membangun karakter karya.
“Kualitas harus sejalan dengan konsistensi. Jangan langsung berpikir soal materi, tapi perdalam dulu musiknya,” ujarnya.
Wawan menambahkan, Nuswantara Publishing juga memberikan pembekalan non-teknis seperti public speaking, etika bermedia, hingga pembentukan mental tampil di atas panggung. Selain itu, proses kurasi dilakukan untuk menyesuaikan karya dengan segmen pasar tanpa menghilangkan idealisme bermusik.
Melalui inisiatif ini, Nuswantara Publishing berharap dapat merangkul lebih banyak musisi lokal, memperkuat ekosistem musik indie, serta menghadirkan karya-karya yang tidak hanya cepat dirilis, tetapi juga matang secara kualitas dan karakter.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....