Pola Asuh Keras Tinggalkan Luka Jangka Panjang
- 27 Jan 2026 15:05 WIB
- Malang
RRI.CO.ID - Malang: Pola asuh keras meskipun kerap dibungkus dengan alasan “demi kebaikan anak” ternyata menyisakan dampak psikologis jangka panjang. Hal ini disampaikan Abyz Wigati, S.Psi, Konselor Anak dan Keluarga dari Harum Family Center Malang kepada RRI Malang pada Selasa (27/1/2026). Menurutnya, banyak orang tua tidak menyadari bahwa kekerasan verbal maupun fisik dapat merusak hubungan emosional anak dan orang tua hingga dewasa.
“Banyak anak yang tumbuh sukses, kariernya bagus, akhlaknya baik, tapi hubungan dengan orang tuanya tetap berjarak. Luka batin karena pola asuh keras itu tidak hilang begitu saja,” ujar Abyz. Ia menjelaskan, anak yang pernah mengalami kekerasan cenderung bingung memahami keinginan orang tua, bahkan saat ingin membantu pun sering diliputi rasa takut salah, takut tersinggung, dan akhirnya memilih diam.
Lebih jauh, Abyz mengungkapkan bahwa anak-anak dengan latar belakang pola asuh keras sering kali justru lebih nyaman menghabiskan waktu di luar rumah bersama teman-temannya dibandingkan dengan orang tua. “Bukan karena mereka tidak sayang, tapi karena rumah tidak lagi terasa sebagai tempat yang aman secara emosional,” katanya.
Dampak lainnya, lanjut Abyz, adalah terbentuknya karakter anak yang rapuh dan mudah terpengaruh lingkungan. Anak menjadi kurang percaya diri dan tidak punya pendirian yang kuat. “Karena sejak kecil perasaan dan pendapatnya tidak pernah dihargai, akhirnya dia tumbuh dengan mental yang mudah goyah,” jelasnya.
Tak jarang, anak juga tumbuh dengan perasaan tidak diterima dan tidak dicintai oleh orang tuanya. “Di dalam hati anak muncul keyakinan bahwa dirinya tidak cukup baik. Maka dia akan mencari sosok pengganti di luar rumah, entah itu teman, pasangan, atau lingkungan lain yang belum tentu sehat,” tambah Abyz.
Terkait perilaku anak yang tantrum atau melawan, Abyz menegaskan orang tua sebaiknya tidak merespons dengan bentakan atau hukuman fisik. “Anak perlu dibantu menyalurkan emosinya, bukan disuruh diam. Dampingi anak, batasi gadget maksimal satu sampai dua jam, dan sediakan aktivitas pengganti seperti bermain bersama, membuat kreasi, atau aktivitas fisik. Anak yang hatinya penuh dan merasa aman, tidak perlu berteriak untuk minta diperhatikan,” pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....