Mengenal dan Menyikapi 'Hubungan Tanpa Status'
- 18 Agt 2025 08:49 WIB
- Malang
KBRN, Malang: Di era media sosial dan budaya serba instan, fenomena situationship semakin marak dialami banyak orang. Istilah ini merujuk pada hubungan di mana dua orang terlibat secara emosional dan kerap berperilaku layaknya pasangan seperti saling berbagi cerita, merasa cemburu, hingga bergantung satu sama lain namun tanpa komitmen atau kejelasan status.
Sekilas, situationship terlihat santai dan bebas tekanan. Namun, penelitian Vaterlaus et al. (2021) mengungkap bahwa ketidakjelasan dalam hubungan semacam ini berpotensi menimbulkan kebingungan, Rasa nyaman yang dibarengi ketakutan akan komitmen membuat sebagian orang enggan mendefinisikan hubungan. Individu dengan insecure attachment rentan masuk dalam situasi ini karena takut ditinggalkan, namun juga takut disakiti.
Sementara itu, mereka yang memiliki avoidant attachment cenderung menghindari kedekatan emosional, sehingga menikmati interaksi tanpa mau mengikat diri. Pengalaman hubungan masa lalu juga dapat membentuk pola relasi ambigu. Mereka yang pernah terluka mungkin memilih situationship sebagai “jalan tengah” untuk tetap dekat dengan seseorang tanpa merasa terikat.
Meski sering dianggap ringan, situationship menyimpan risiko psikologis. Harapan yang tidak terpenuhi, kelelahan emosional, hingga kebingungan status yang kerap muncul. Sejumlah Psikolog mengatakan pertanyaan seperti, aku ini siapa buat dia? menjadi beban mental yang nyata yang akan selalu menjadi pertanyaan besar.
Cara menyikapi hal ini menurut Psikolog yaitu dengan menyadari kebutuhan diri, bisa dengan mengevaluasi apakah hubungan ini memberi ketenangan atau justru berpotensi kebingungan. Kemudian lakukan komunikasi asertif dengan menyatakan ekspektasi secara jelas, misalnya dengan bertanya, “Apakah kita ingin komitmen atau tetap seperti ini tanpa kejelasan?”.
Selanjutnya bisa juga dengan membuat keputusan tegas, jika pihak lain enggan berkomitmen, pertimbangkan untuk melepaskan demi kesehatan mental dan tidak berlanjut dalam ketidakjelasan yang akan berujung permasalahan. Pada akhirnya, relasi yang sehat tidak membuat seseorang terus menebak-nebak, melainkan memberi rasa aman dan kejelasan.
Jika kehadiran seseorang membawa lebih banyak kebingungan daripada ketenangan, mungkin sudah waktunya memilih jalan terbaik untuk kebaikan bersama, karena semua memiliki hal untuk hidup dan menjadi diri sendiri yang utuh serta memliki pasangan hidup yang bertaggung jawab untuk masa depan lebih baik. (JR)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....