Waspadai Perilaku Manipulatif dalam Hubungan

  • 18 Agt 2025 00:46 WIB
  •  Malang

KBRN, Malang: Fenomena hubungan tidak sehat semakin sering menjadi sorotan publik, terutama dengan munculnya istilah toxic relationship yang kerap dibahas di media sosial. Salah satu pola yang berbahaya adalah perilaku manipulatif yakni, upaya seseorang untuk mengontrol atau mengeksploitasi pasangan secara emosional demi keuntungan pribadi, tanpa mempertimbangkan dampak negatifnya.

Menurut Braiker (2004), pelaku manipulatif kerap menggunakan taktik-taktik tertentu untuk mempertahankan kendali dalam hubungan dan menghindari tanggung jawab. Beberapa tanda umum ditemukan yaitu seperti gaslighting yang membuat pasangan meragukan diri sendiri dengan pernyataan “Kamu terlalu sensitif” atau “Itu cuma perasaan kamu”. Tujuannya yaitu untuk melemahkan rasa percaya diri korban.

Kemudian perilaku pasif agresif, tindakan ini terlihat diam namun menyakiti, seperti ngambek tanpa alasan jelas, atau menggunakan sarkasme untuk menyindir. Selanjutnya bebohong dan menyalahkan, terlihat pada tindakan memutar fakta, mengelak, atau membuat pasangan merasa bersalah atas masalah yang bukan kesalahannya.

Tanda yang lain yaitu love bombing yang memberi cinta berlebihan di awal lalu menarik diri secara tiba-tiba, menciptakan kebingungan emosional. Yang unik juga terlihat tanda adanya ancaman dan paksaan emosional dengan menggunakan rasa takut atau bersalah untuk mengontrol, misalnya dengan ancaman menyakiti diri.

Kemudian silent treatment dengan menghukum pasangan dalam diam, menghilang, atau menolak komunikasi. Tidak hanya itu, terlihat juga adanya sikap mengisolasi diri dari orang terdekat, biasanya dengan menjauhkan dari pasangan atau keluarga atau teman dengan alasan negatif, sehingga korban semakin bergantung.

Hubungan yang sehat seharusnya memberikan rasa aman, saling menghargai, dan membangun kepercayaan. Jika seseorang merasa terus - menerus direndahkan, dikendalikan, atau diisolasi, penting untuk menetapkan batasan tegas, mencari dukungan dari orang terdekat, atau berkonsultasi dengan profesional.

Mengabaikan tanda - tanda yang sudah disampaikan tadi bisa berdampak berisiko menurunkan kesehatan mental dan harga diri. Semua hal yang berkenaan dengan penyimpangan mental bisa pulih bilamana adanya kesadaran yang menjadi langkah pertama untuk keluar dari lingkaran hubungan yang merugikan (JR).


Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....