Bukti Keimanan kepada Allah dan Hari Akhir

  • 26 Mei 2025 06:44 WIB
  •  Malang

KBRN, Malang : Iman tidak hanya cukup dengan lisan tetapi harus ada pembuktian dalam kehidupan, hal ini dikatakan ustadz Ahmad Fakhrur Rouzi S. HI, SH diacara Cahyaning Ati Pro 4 RRI Malang, Senin (26/5/2025) pagi.

“Iman tidak hanya cukup dengan lisan tetapi harus ada pembuktian dalam kehidupan kita sehari – hari,” ujarnya.

Ustadz Fakhrur panggilan akrabnya menjelaskan bagaimana kita membuktikan keimanan kita. Nabi Muhammad SAW bersabda tentang indikator iman seorang mukmin yang terdapat dalam Arba’in Nawawi karya Imam An-Nawawi adalah hadits ke-15 yang artinya : Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik atau diamlah! Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka muliakanlah tetangganya, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka muliakanlah tamunya. Hadits ini shahih, diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

Ia menerangkan, Hadits ini menunjukkan tiga indikator keimanan seorang mukmin, yaitu pertama, mengucapkan perkataan yang baik atau diam, Rasulullah SAW menekankan bahwa seorang mukmin yang beriman kepada Allah dan hari akhir harus menjaga lisannya. Ini berarti seseorang harus berpikir matang sebelum berbicara, memastikan bahwa apa yang akan ia ucapkan adalah hal yang baik, bermanfaat, atau dapat membawa kebaikan bagi orang lain. Jika seseorang tidak dapat berkata yang baik, maka lebih baik baginya untuk diam. Ini menghindari munculnya perkataan buruk, seperti ghibah, fitnah, dusta, atau ucapan yang dapat menyakiti hati orang lain. Menjaga lisan adalah bagian penting dari kesempurnaan iman karena lisan yang tidak terkontrol dapat menjadi sumber kerusakan, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

"Di zaman sekarang ini tidak hanya lisan yang harus kita jaga tetapi juga jari jemari kita, karena kemajuan teknologi sekarang ini ghibah, fitnah, dusta tidak hanya dilakukan dengan lisan tapi dengan jari, dengan mengirimkan berita tidak benar dimedia sosial," jelasnya.

Kedua, memuliakan tetangga, Islam menekankan pentingnya menjaga hubungan baik dengan tetangga, karena tetangga adalah orang yang paling dekat dan berpotensi memberikan bantuan atau menjadi orang pertama yang mengetahui keadaan kita. Memuliakan tetangga dapat diwujudkan dengan berbagai cara, seperti tidak mengganggunya, membantu saat ia membutuhkan, serta menjaga hak-hak dan kehormatannya. Dalam Islam, hubungan baik dengan tetangga tidak hanya terbatas pada sesama Muslim, tetapi juga mencakup tetangga yang non-Muslim.

"Rasulullah SAW menyebutkan dalam hadits lain bahwa "Jibril terus berpesan kepadaku tentang tetangga hingga aku mengira bahwa tetangga itu akan mendapat hak warisan." (HR. Bukhari dan Muslim). Ketiga, memuliakan tamu, seorang Mukmin yang baik akan berusaha melayani dan menyambut tamunya dengan penuh keramahan dan kebaikan, sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Rasulullah SAW bersabda bahwa tamu memiliki hak atas tuan rumah untuk dijamu dan dihormati selama tiga hari. Setelah itu, segala yang lebih dari tiga hari adalah sedekah dari tuan rumah (HR. Bukhari dan Muslim). Memuliakan tamu menunjukkan kedermawanan, kemurahan hati, dan kepedulian seorang Muslim terhadap sesama," terang Ustadz Fakhrur.

Dalam penutupnya ustadz Fakhrur Rouzi kembali mengingatkan bahwa jika kita mengaku beriman tidak hanya cukup dikatakan saja, tetapi harus dibuktikan dengan implementasi kehidupan kita sehari – hari. Keimanan yang sempurna tercermin dari bagaimana seseorang menjaga lisannya, memuliakan tetangga, dan memuliakan tamu. Semua itu menjadi tanda bahwa seseorang memiliki keimanan yang kokoh kepada Allah SWT dan hari akhir.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....