Memahami Jenis-Jenis Nafsu dalam Tasawuf
- 15 Mar 2025 10:23 WIB
- Malang
KBRN, Malang: Dalam perjalanan spiritual, manusia melewati beberapa fase nafsu. Tiga di antaranya adalah nafsu amarah, nafsu lawwamah, dan nafsu mulhamah. Dalam tausiyah Cahyaning Ati yang disiarkan di Pro 4 RRI Malang, Ustadz Dedi N. Abdullah Tillu, M.Pd.I, menjelaskan bagaimana manusia dapat menyucikan jiwa untuk mencapai ketenangan batin.
Menurutnya nafsu amarah adalah tingkat terendah di mana seseorang dikuasai oleh hawa nafsu dan cenderung melakukan maksiat tanpa rasa bersalah. Sementara itu, nafsu lawwamah sudah mulai menyadari kesalahan tetapi masih sering terjerumus.
"Adapun Nafsu Mulhamah, meskipun seseorang telah mengetahui dengan jelas perbuatan maksiat, hatinya masih dipenuhi sifat buruk seperti kezaliman, kesombongan, dan menganggap diri paling baik dibanding orang lain," jelasnya, Sabtu (15/3/2025)
Untuk mencapai Nafsu Mutmainnah, seseorang harus mampu mengenali dan membersihkan kotoran hati. Ketika seseorang menyadari kezaliman dalam dirinya, ia mulai menggantinya dengan sifat-sifat baik, seperti saling menghormati dan memohon ampun kepada Allah SWT
"Seperti contohnya perjalanan Sunan Kalijaga yang dulunya seorang perampok, tetapi setelah bertemu dengan Sunan Bonang, beliau bertaubat dan menjalani proses penyucian diri, hingga mencapai ketenangan hati dalam Nafsu Mutmainnah," jelasnya.
Tingkatan berikutnya adalah Nafsu Radiyah, yang ditandai dengan kerelaan penuh terhadap takdir Allah. Orang yang berada di fase ini memiliki keyakinan bahwa setiap ujian adalah bentuk kasih sayang dari-Nya, sehingga ia tetap sabar dan husnudzon kepada Allah.
"Namun, Nafsu Radiyah masih memiliki kelemahan, yakni kecenderungan untuk merasa lebih baik dari orang lain, yang dapat menimbulkan kesombongan," ungkapnya.
Puncak dari perjalanan spiritual adalah Nafsu Mardiyah dan Nafsu Kamilah. Dalam Nafsu Mardiyah, seseorang tidak lagi merasa lebih baik dari orang lain dan selalu bersyukur atas segala keadaan.
"Sedangkan Nafsu Kamilah adalah tingkatan tertinggi, di mana seseorang telah mencapai kesempurnaan jiwa dengan selalu husnudzon kepada Allah dan hidup dalam ketenangan batin yang sempurna," katanya.
Melalui pemahaman ini, Ustaz Dedi mengajak umat Islam untuk menjadikan Ramadan sebagai momentum penyucian diri agar mampu mencapai tingkatan nafsu yang lebih tinggi dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. (Mey)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....