Paradoc Film Angkat Pendidikan Antikorupsi lewat Cerita Anak

  • 06 Okt 2026 10:16 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Paradoc Film, rumah produksi yang digagas pasangan Mada Arya dan Linda, berhasil masuk dalam 20 besar nominasi Anti-Corruption Film Festival (ACCFEST). Pencapaian tersebut menjadi pengalaman baru bagi Paradoc Film, terlebih karya yang diikutsertakan merupakan naskah film fiksi pertama yang mereka garap.

Mada Arya mengatakan, gagasan cerita tersebut berawal dari sebuah pemandangan sederhana yang ia temui selepas salat Jumat. Saat itu, ia melihat sejumlah anak justru sibuk berebut nasi kotak yang dibagikan setelah ibadah.

Alih-alih melihatnya sebagai perilaku anak-anak yang biasa, Mada justru menangkap persoalan yang lebih luas dari kebiasaan tersebut. Menurutnya, perilaku kecil yang dibiarkan tanpa arahan dapat berkembang menjadi kebiasaan dan berpengaruh terhadap pembentukan karakter seseorang ketika dewasa.

“Menurut saya, itu bukan sekadar tingkah anak-anak biasa. Saya melihat ada persoalan mendasar di sana. Kebiasaan kecil yang dibiarkan tanpa teguran bisa membentuk pola perilaku seseorang ketika dewasa. Dari situ saya mulai berpikir bagaimana hal sederhana seperti ini bisa dikaitkan dengan pendidikan antikorupsi,” jelas Mada dalam talkshow Spada, Senin (5/10/2026).

Menurut Mada, pendidikan antikorupsi tidak selalu harus dimulai dengan membahas kasus korupsi dalam skala besar. Nilai-nilai dasar seperti kejujuran, tidak mengambil sesuatu yang bukan hak, serta kesediaan menerima teguran justru dapat diperkenalkan sejak seseorang masih berada di usia anak-anak.

Ia menilai, pembentukan kebiasaan tersebut dapat menjadi dasar bagi seseorang dalam menentukan sikap ketika menghadapi berbagai persoalan di kemudian hari.

“Di sinilah kompas moral itu dibutuhkan. Ketika seseorang sejak kecil terbiasa memahami mana yang menjadi haknya dan mana yang bukan, serta mau menerima ketika diingatkan, nilai tersebut bisa menjadi pedoman untuk menentukan tindakan ketika menghadapi situasi tertentu di masa depan,” imbuhnya.

Mada juga menyoroti peran keluarga dan lingkungan dalam membentuk kebiasaan serta karakter anak. Menurutnya, proses pendidikan tidak hanya berlangsung melalui pembelajaran formal, tetapi juga melalui contoh dan respons orang-orang di sekitar anak terhadap perilaku sehari-hari.

Teguran terhadap perilaku yang keliru, lanjut Mada, tidak selalu harus dipandang sebagai bentuk menghakimi atau merasa paling benar. Dalam konteks pendidikan anak, teguran dapat menjadi bentuk perhatian agar anak memahami konsekuensi dari tindakan yang dilakukannya.

“Menegur anak ketika melakukan sesuatu yang keliru bukan berarti kita merasa paling benar. Justru bisa menjadi bentuk perhatian. Anak perlu tahu bahwa ada perilaku yang harus diperbaiki dan ada batasan yang perlu dihormati,” katanya.

Melalui karya yang diikutsertakan dalam ACCFEST, Paradoc Film mencoba mengangkat pendidikan antikorupsi melalui persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pendekatan tersebut dipilih agar nilai yang disampaikan tidak terasa jauh atau hanya berkaitan dengan kasus-kasus besar yang kerap diberitakan.

Bagi Mada, keikutsertaan dalam kompetisi bukan menjadi satu-satunya tujuan dari proses pembuatan karya tersebut. Gagasan mengenai pendidikan antikorupsi justru menjadi kesempatan bagi Paradoc Film untuk membicarakan pentingnya pembentukan karakter melalui medium film.

“Terlepas dari kompetisinya, bagi saya yang paling penting adalah gagasannya bisa dibicarakan. Pendidikan antikorupsi sebenarnya bisa dimulai dari hal-hal sederhana yang kita temui setiap hari, terutama bagaimana kita mendidik anak untuk memahami kejujuran, hak orang lain, dan pentingnya saling mengingatkan,” ujar Mada.

Ia berharap pesan yang dibawa melalui karya tersebut dapat mendorong masyarakat untuk membangun kebiasaan saling mengingatkan, khususnya dalam lingkungan keluarga. Menurutnya, pendidikan karakter yang dimulai sejak usia dini dapat menjadi bagian penting dalam membentuk sikap seseorang ketika menghadapi berbagai pilihan di masa mendatang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....