Dari dalam Gua, Mapala Belajar Rendah Hati
- 02 Sep 2026 11:01 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Aktivitas susur gua sering identik dengan tantangan dan keberanian menghadapi kondisi alam yang gelap serta sulit diprediksi. Namun, bagi Thariq Asira atau Mas Nato, pengalaman tersebut bukan hanya soal menaklukkan medan. Alam justru mengajarkan manusia untuk bekerja sama, menjaga sikap dan memahami bahwa manusia tidak boleh bertindak semaunya terhadap lingkungan.
Hal tersebut disampaikan Mas Nato, Ketua Umum Mapala Tursina UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, dalam program Tanggap Bencana Kentongan RRI Malang Selasa (11/8/2026). Ia mengaku sudah mengenal alam sejak masa sekolah karena lingkungan pendidikannya membuatnya terbiasa berinteraksi dengan alam. Ketika kuliah, kecintaannya tersebut kemudian berkembang melalui organisasi Mapala dan akhirnya membawanya mendalami bidang caving atau susur gua.
Menurut Mas Nato, Mapala memiliki beberapa bidang keahlian yang dapat menjadi pilihan anggotanya. Bidang tersebut antara lain gunung hutan, rafting, panjat tebing, konservasi dan lingkungan hidup, serta caving. Dalam kegiatan susur gua, kemampuan teknis menjadi bagian yang sangat penting. Peralatan standar, kemampuan menggunakan sistem SRT, P3K, koordinasi tim dan persiapan pos siaga harus diperhatikan sebelum seseorang memasuki medan gua.
Namun, kemampuan teknis saja tidak cukup. Orang yang masuk ke dalam gua juga harus memahami aturan untuk menjaga ekosistem. Ornamen gua seperti stalaktit dan stalagmit tidak boleh disentuh karena minyak dan bakteri dari tangan manusia dapat merusak proses pertumbuhannya. Pengunjung juga tidak boleh berteriak atau membuat kegaduhan karena suara dapat mengganggu hewan yang hidup di dalam gua. Bahkan menyalakan api menjadi tindakan yang berbahaya karena adanya kemungkinan gas metana dan terbatasnya oksigen.
Mas Nato juga menekankan pentingnya tiga prinsip sederhana dalam kegiatan pencinta alam, yaitu “jangan mengambil apapun selain gambar, jangan membunuh apapun selain waktu, jangan meninggalkan apapun selain jejak.”Prinsip tersebut menunjukkan bahwa manusia seharusnya hadir di alam tanpa mengambil atau merusak sesuatu yang bukan miliknya. Keindahan alam cukup dinikmati dan diabadikan melalui gambar tanpa harus membawa pulang bagian dari alam tersebut.
Lebih jauh, pengalaman berada di alam juga dapat membentuk karakter seseorang. Medan yang menantang membuat anggota tim harus saling percaya, bekerja sama dan meninggalkan sikap merasa paling hebat. Mas Nato menjelaskan bahwa alam mengajarkan seseorang untuk tidak egois dan tidak jumawa. Dalam situasi tertentu, keselamatan seluruh anggota tim justru bergantung pada kemampuan setiap orang untuk saling membantu.
Pesan tersebut kemudian diperluas pada kehidupan sehari-hari. Menurut Mas Nato, seseorang tidak harus menjadi anggota Mapala untuk menunjukkan kecintaan terhadap alam. Kebiasaan sederhana seperti menjaga kebersihan, merapikan kamar dan membuang sampah pada tempatnya merupakan bentuk kepedulian yang dapat dilakukan siapa saja. “Mencintai alam tidak harus selalu bergabung dengan Mapala,” menjadi pesan penting bahwa kepedulian lingkungan sebenarnya dapat dimulai dari lingkungan paling dekat dengan kehidupan masing-masing.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....