Susur Gua Bukan Sekadar Petualangan, Ada Etika
- 02 Sep 2026 11:04 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Bagi sebagian orang, masuk ke dalam gua mungkin terlihat seperti aktivitas petualangan biasa. Padahal, susur gua membutuhkan persiapan, keterampilan, serta kesadaran untuk menjaga keselamatan dan kelestarian lingkungan. Hal tersebut dibahas Thariq Asira atau Mas Nato, Ketua Umum Mapala Tursina UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, dalam program Tanggap Bencana Kentongan RRI Malang, Selasa (11/8/2026).
Mas Nato menceritakan bahwa kecintaannya terhadap alam sudah tumbuh sejak duduk di bangku SMP dan SMA karena terbiasa belajar di sekolah berbasis alam. Dorongan orang tua untuk mengenal Indonesia secara langsung juga membuatnya semakin dekat dengan lingkungan alam. “Indonesia itu jangan hanya dikenal dari teks atau buku,” menjadi salah satu latar belakang yang mendorongnya untuk mengenal alam secara langsung. Ketertarikan tersebut kemudian dilanjutkan ketika memasuki dunia perkuliahan dengan bergabung dalam organisasi Mapala.
Dalam organisasi pencinta alam, terdapat sejumlah bidang keahlian yang dapat dipelajari, mulai dari gunung hutan, olahraga arus deras atau rafting, panjat tebing, konservasi lingkungan hidup, hingga susur gua atau caving. Dari beberapa bidang tersebut, Mas Nato memilih untuk mendalami caving. Menurutnya, aktivitas susur gua tidak cukup hanya mengandalkan keberanian karena terdapat berbagai aspek keselamatan yang harus dipersiapkan.
Persiapan tersebut mencakup penggunaan peralatan yang sesuai, seperti tali karmantel statis dan perangkat naik-turun atau SRT, penyediaan P3K, koordinasi anggota tim, hingga penyiapan pos siaga. Administrasi dan koordinasi dengan pihak terkait juga menjadi bagian penting sebelum kegiatan dilakukan, termasuk dengan kepolisian, puskesmas dan perangkat desa setempat. Semua persiapan tersebut diperlukan untuk mengantisipasi kondisi darurat selama berada di lapangan.
Selain keselamatan, etika terhadap alam menjadi perhatian utama. Mas Nato mengingatkan tiga prinsip penting bagi pencinta alam, yakni “jangan mengambil apapun selain gambar, jangan membunuh apapun selain waktu, dan jangan meninggalkan apapun selain jejak.” Prinsip tersebut menjadi pengingat bahwa kegiatan di alam tidak seharusnya meninggalkan kerusakan.
Khusus di dalam gua, pengunjung juga tidak diperbolehkan menyentuh stalaktit dan stalagmit. Minyak serta bakteri dari tangan manusia dapat mengganggu bahkan mematikan proses pertumbuhan ornamen karst tersebut. Pengunjung juga harus menjaga suara agar tidak mengganggu kelelawar dan berbagai hewan lain yang hidup di dalam gua. Menyalakan api pun dilarang karena adanya risiko gas metana dan kondisi oksigen yang terbatas.
Melalui pengalaman di alam, Mas Nato menyebut banyak pelajaran kehidupan yang dapat diperoleh, termasuk kejujuran, kerja sama dan pentingnya menghilangkan sikap egois. “Alam mengajarkan kejujuran, kerja sama tim,” ujarnya. Menurutnya, kecintaan terhadap alam juga tidak harus diwujudkan dengan bergabung dalam Mapala. Menjaga kebersihan diri, merapikan kamar dan membuang sampah pada tempatnya sudah menjadi langkah sederhana untuk menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....