Gadget Bantu Belajar, Guru SLB Ingatkan Risiko Screen Time Berlebihan
- 02 Sep 2026 11:27 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Penggunaan teknologi digital dalam pembelajaran siswa berkebutuhan khusus memang memberikan banyak manfaat. Namun, guru SLB Sumber Dharma Kota Malang mengingatkan penggunaan perangkat digital, khususnya ponsel, tetap harus dibatasi agar tidak mengganggu konsentrasi dan proses perkembangan belajar anak.
Guru SLB Sumber Dharma, Yovie Alamsyah, mengatakan siswa umumnya menunjukkan antusiasme ketika pertama kali diperkenalkan dengan teknologi. Ketertarikan tersebut menjadi modal positif dalam pembelajaran, tetapi guru tetap harus memastikan antusiasme tidak berubah menjadi ketergantungan terhadap perangkat digital.
“Antusias yang pertama karena ingin tahu, yang kedua antusias karena ketagihan,” kata Yovie dalam Program Prioritas Nasional Ruang Disabilitas dan Inklusi Pro 1 RRI Malang, Senin (31/8/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut membuat guru perlu melakukan pemetaan terhadap penggunaan media digital. Tidak semua perangkat aman digunakan dalam waktu lama, sehingga durasi dan tujuan penggunaannya harus diperhatikan.
Selain durasi, persoalan akses juga menjadi bagian dari pembelajaran inklusif. Yovie mengatakan penggunaan media digital harus dilakukan secara adil sehingga tidak hanya satu atau dua siswa yang memperoleh kesempatan menggunakan perangkat, sementara siswa lainnya tidak mendapatkan akses.
Dengan demikian, teknologi tidak boleh justru menciptakan kesenjangan baru di dalam kelas. Perangkat yang tersedia perlu dimanfaatkan sedemikian rupa agar sebanyak mungkin siswa dapat merasakan manfaatnya sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Tantangan berbeda muncul ketika teknologi diperkenalkan kepada siswa usia sekolah dasar. Menurut Yovie, anak-anak pada jenjang tersebut terkadang masih menganggap perangkat digital sebagai permainan.
“Masih agak-agak sulit karena mereka merasa semua itu seperti permainan aja,” ujarnya.
Padahal, perangkat tersebut diberikan guru bukan semata-mata untuk bermain. Teknologi digunakan sebagai media pembelajaran yang memungkinkan siswa mengikuti latihan, mengenal materi, serta melakukan aktivitas edukatif dengan cara yang lebih menarik.
Sementara untuk siswa jenjang SMP dan SMA, pemahaman terhadap fungsi teknologi sebagai sarana belajar dinilai sudah lebih baik. Guru dapat memberikan latihan soal melalui perangkat digital sehingga siswa tidak selalu harus menuliskan jawaban di atas kertas.
Persoalan screen time menjadi semakin penting ketika siswa memiliki telepon seluler sendiri. Di kelas yang ditangani Yovie, penggunaan HP diatur cukup ketat.
HP tidak digunakan selama proses pembelajaran. Perangkat tersebut hanya diperbolehkan digunakan sebelum waktu masuk sekolah, saat jam istirahat dan ketika siswa pulang.
Aturan tersebut bukan berarti sekolah melarang siswa menggunakan telepon seluler. Pada waktu istirahat, misalnya, siswa diperbolehkan menggunakan HP karena waktu tersebut bukan lagi bagian dari kegiatan pembelajaran. Saat pulang, HP juga dapat membantu siswa berkomunikasi, terutama bagi mereka yang masih menggunakan layanan antar-jemput.
Yovie juga menyoroti dampak penggunaan ponsel terhadap rentang perhatian siswa. Berdasarkan penelitian yang ia ketahui, penggunaan screen time yang hanya berpatokan pada perangkat handheld seperti ponsel justru dapat membuat rentang fokus anak semakin pendek.
Konten digital yang penuh warna, memiliki suara keras dan perpindahan gambar yang sangat cepat dapat membuat anak mudah terdistraksi. Kondisi tersebut menjadi perhatian khusus bagi siswa autis dan ADHD yang memang memiliki tantangan dalam mempertahankan fokus.
“Anak-anak itu mudah terdistrak,” kata Yovie.
Ia menjelaskan, stimulus yang terus-menerus diberikan melalui konten digital dapat membuat anak hanya tertarik pada aktivitas tersebut. Akibatnya, anak dapat kehilangan minat terhadap kegiatan lain yang sebenarnya juga penting dalam proses belajar.
Karena itu, guru memiliki peran penting dalam mengatur screen time, terutama bagi siswa autis dan ADHD. Penggunaan perangkat harus tetap diarahkan untuk tujuan pembelajaran dan tidak dibiarkan berlangsung tanpa batas.
Pengawasan tersebut juga tidak dapat berhenti di sekolah. Menurut Yovie, guru perlu membangun komunikasi dengan orang tua agar pengaturan penggunaan gawai juga dilakukan di rumah.
“Di sekolah sudah dibatasi screen time-nya, begitu pula sebaiknya orang tua melakukan hal tersebut di rumah,” ujarnya dalam dialog tersebut.
Untuk pembelajaran menggunakan tablet bagi anak dengan autisme, Yovie menyebut durasi satu sesi sebaiknya tidak lebih dari sekitar satu jam. Setelah digunakan dalam satu sesi, anak perlu mendapatkan jeda sebelum pembelajaran dilanjutkan.
Ia mengingatkan agar penggunaan perangkat tidak langsung dilakukan selama dua jam tanpa jeda. Menurutnya, anak tetap membutuhkan waktu untuk beristirahat dari paparan layar.
“Jangan dirapel dua jam langsung pakai tablet terus, jangan. Nanti anak-anak juga kasihan,” kata Yovie.
Di sisi lain, penggunaan teknologi tetap dapat memberikan manfaat besar apabila konten, perangkat dan durasinya tepat. Karena itu, tantangannya bukan sekadar apakah anak boleh menggunakan gadget atau tidak, tetapi bagaimana guru dan orang tua memastikan teknologi digunakan secara terarah.
Dengan pengawasan tersebut, teknologi tetap dapat menjadi alat bantu pembelajaran yang menarik tanpa membuat anak kehilangan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan lain di luar perangkat digital.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....