KKN MAs 68 Ubah Pipa Paralon Menjadi Reflektor Jalan di Dusun Kreweh

  • 25 Agt 2026 12:11 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Jalanan berkelok dan minim penerangan di Dusun Kreweh, Desa Gunungrejo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, kini punya wajah baru. Sepanjang ruas jalan yang selama ini gelap gulita saat malam, berdiri deretan reflektor merah mencolok yang siap memandu pengendara. Uniknya, reflektor tersebut bukan produk pabrikan, melainkan hasil kreasi mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Mas Kelompok 68 yang memanfaatkan pipa paralon.

Selama lima hari kerja, 18 hingga 22 Agustus 2026, tiga belas mahasiswa lintas kampus dan lintas jurusan yang tergabung dalam kelompok ini bahu-membahu merancang, membuat, hingga memasang reflektor jalan sederhana namun fungsional. Total 20 unit reflektor berhasil dirakit, terdiri dari 16 batang berukuran 80 sentimeter dan 4 batang berukuran 70 sentimeter, lalu ditanam berjajar dengan jarak 10 meter di titik-titik jalan yang dinilai paling rawan kecelakaan.

KKN Mas merupakan program Kuliah Kerja Nyata kolaborasi yang melibatkan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) se-Indonesia. Pada tahun ini, program tersebut dipusatkan di Malang Raya dan diikuti oleh 59 kampus PTMA dari berbagai daerah, dengan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bertindak sebagai kampus host atau tuan rumah penyelenggara.

Salah satu kelompok yang diterjunkan dalam program ini adalah Kelompok 68, yang ditempatkan di Dusun Kreweh, Desa Gunungrejo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Kelompok ini beranggotakan tiga belas mahasiswa lintas jurusan yang berasal dari sembilan kampus Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah berbeda, dengan Laode Muhammad Ishak Firdaus dari Universitas Muhammadiyah Buton sebagai penanggung jawab (PJ) kelompok. Disertai dengan Badrriyah Nur Cahyani dari Universitas Muhammadiyah Buton,Rahayu Meyliana Putri dari Universitas Muhammadiyah Gombong,Liaana Asiyah dari Universitas Muhammadiyah Palembang,Balqis Haura Alexander dari Universitas Muhammadiyah Semarang, Clara I Gusti Herlisa dari Universitas Muhammadiyah Ahmad Dahlan Palembang, Anzillizza Cahya Raihani dari Universitas Muhammadiyah Bengkulu, Lisa Noviandi Melati Putri dari Universitas Muhammadiyah Malang, Ahmad Syauqy Mubarok dari Universitas Muhammadiyah Malang, Dede Risma dari Universitas ’Aisyiyah Yogyakarta, Sofyan dari Universitas Muhammadiyah Palembang, Manisa Aulia Tika Mahtin dari Universitas Muhammadiyah Jakarta dan Tazkia Aulia Rahma dari Universitas Muhammadiyah Ponorogo.

Ide pembuatan reflektor ini lahir dari hasil observasi lapangan bersama perangkat dusun dan desa. Tim menemukan sejumlah ruas jalan dengan kontur naik-turun dan tikungan tajam yang sama sekali tidak memiliki penanda tepi maupun lampu penerangan. Kondisi ini dinilai berbahaya, terutama bagi pengendara yang melintas pada malam hari dan berisiko kehilangan orientasi arah jalan.

Menjawab persoalan tersebut, mahasiswa memilih pipa paralon PVC berdiameter 2 inci sebagai bahan utama karena mudah didapat, murah, dan cukup kuat jika direkayasa dengan tepat. Setiap batang paralon diisi campuran pasir, semen, dan kerikil agar berbobot dan tidak mudah bergeser saat ditanam, kemudian ditutup dop di kedua ujungnya supaya air tidak masuk.

Proses pembuatan reflektor berlangsung bertahap. Diawali dengan pembelian bahan dan survei ulang titik pemasangan pada 18 Agustus, dilanjutkan pemotongan pipa sesuai ukuran pada hari berikutnya. Bagian dalam pipa lantas dicor dengan campuran pasir, semen, dan kerikil, lalu dibiarkan mengeras selama dua hari sebelum dilapisi stiker reflektif dan dicat pilox merah sebagai identitas kelompok 68.

Pada 22 Agustus 2026, seluruh reflektor akhirnya ditanam di titik-titik yang telah disepakati bersama perangkat desa. Warna merah mencolok sengaja dipilih bukan untuk fungsi pemantul cahaya, melainkan sebagai penanda identitas, sementara tugas memantulkan sorotan lampu kendaraan sepenuhnya dibebankan pada stiker reflektif yang ditempel di permukaan pipa.

Uji coba sederhana pada malam hari menunjukkan hasil yang menggembirakan. Stiker reflektif pada pipa paralon mampu memantulkan sorotan lampu kendaraan hingga jarak sekitar 30-40 meter, jauh melampaui jarak antar-titik pemasangan yang hanya 10 meter. Artinya, sebelum satu reflektor hilang dari pandangan, reflektor berikutnya sudah lebih dulu terlihat, sehingga pengendara mendapat garis panduan visual yang menyambung sepanjang jalan.

Dari sisi ketahanan, tim memperkirakan struktur reflektor mampu bertahan sekitar satu hingga dua tahun sebelum memerlukan perawatan atau penggantian komponen reflektif, mengingat material stiker dan cat umumnya mengalami penurunan performa akibat paparan matahari, hujan, dan gesekan seiring waktu.

Program ini digagas sebagai alternatif keselamatan jalan pasif yang tidak membutuhkan biaya besar maupun teknologi rumit, selain memperkuat visibilitas jalan pada malam hari, kegiatan ini juga menjadi ajang penerapan ilmu teknik sederhana bagi mahasiswa lintas jurusan yang terlibat.

Reflektor paralon bukan satu-satunya program unggulan Kelompok 68 selama masa KKN di Dusun Kreweh, Tim juga menjalankan program penyuluhan Kesehatan gratis serta program di bidang Pendidikan yang menyasar anak-anak usia dini di salah satu Sekolah Dasar di dusun tersebut. Kedua program ini melengkapi pembuatan reflektor jalan sebagai wujud kontribusi menyeluruh mahasiswa, tidak hanya pada aspek infrastruktur, tetapi juga kesehatan dan Pendidikan Masyarakat.

Ke depan, tim berencana melakukan pemantauan berkala terhadap kondisi cat, stiker, dan struktur cor reflektor, serta menyebarkan kuesioner kepada warga dan pengguna jalan setelah reflektor terpasang cukup lama. Langkah ini diharapkan bisa memberikan gambaran lebih lengkap soal manfaat nyata reflektor paralon bagi keselamatan warga, sekaligus membuka peluang replikasi program serupa di desa-desa lain dengan persoalan penerangan jalan yang sama.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....