KKN MAs 82 Kenalkan Komposter dari Galon Bekas
- 25 Agt 2026 12:11 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Muhammadiyah ‘Aisyiyah (KKN MAs) Kelompok 82 Desa Sidomulyo mengenalkan inovasi pengolahan sampah organik melalui pembuatan komposter sederhana berbahan galon bekas. Inovasi tersebut diperkenalkan kepada ibu-ibu peserta senam RW 09 Desa Sidomulyo, Kota Batu, Sabtu (22/8/2026).
Kegiatan yang berlangsung dalam rangkaian senam bersama warga tersebut diisi dengan sosialisasi mengenai pengelolaan sampah organik rumah tangga. Mahasiswa menjelaskan cara sederhana mengolah sisa sayuran, kulit buah, daun kering, dan sampah organik lainnya menjadi kompos yang dapat dimanfaatkan kembali untuk tanaman.
Salah satu mahasiswa KKN MAs Kelompok 82 menjelaskan bahwa pengelolaan sampah organik dapat dimulai dari lingkungan rumah dengan memanfaatkan bahan yang mudah ditemukan.
“Limbah dapur atau sampah dapur organik daripada dibuang begitu saja, mending dimanfaatkan menjadi pupuk kompos dengan menggunakan cara sederhana ini,” ujarnya.
Komposter yang diperkenalkan dibuat dari galon bekas yang sudah tidak digunakan. Galon dipotong menjadi dua bagian dan disusun secara bertumpuk untuk menjadi wadah pengomposan. Cara tersebut dinilai sederhana karena memanfaatkan barang bekas sekaligus mengurangi sampah yang berpotensi menambah beban lingkungan.
Dalam praktiknya, mahasiswa menggunakan beberapa bahan, seperti daun kering, sampah dapur organik, tanah, air, dan EM4. Bahan-bahan tersebut disusun secara bertahap dengan memperhatikan keseimbangan bahan organik selama proses pengomposan.
Daun kering digunakan sebagai sumber karbon, sedangkan sampah dapur menjadi sumber nitrogen. Tanah membantu menyediakan mikroorganisme yang berperan dalam proses penguraian, sementara larutan EM4 digunakan untuk membantu mempercepat proses pengomposan.
Mahasiswa juga menjelaskan bahwa sampah dapur sebaiknya dipotong menjadi bagian-bagian kecil sebelum dimasukkan ke dalam komposter. Bahan kemudian disusun bersama daun kering dan tanah, lalu diberi campuran EM4 dan air secukupnya.
Selama proses pengomposan, komposter perlu dijaga agar tetap lembap dan memiliki sirkulasi udara yang cukup. Bahan juga perlu diaduk secara berkala agar proses penguraian dapat berlangsung dengan baik.
Hasil pengomposan nantinya dapat berupa kompos padat dan cairan hasil penguraian. Kompos padat yang telah matang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk untuk tanaman, sedangkan cairan yang terkumpul pada bagian bawah komposter dapat dimanfaatkan kembali setelah melalui pengolahan yang sesuai.
Kompos matang umumnya ditandai dengan warna yang berubah menjadi cokelat tua hingga hitam, tekstur yang lebih remah, tidak menimbulkan bau busuk, serta bahan awal yang sudah sulit dikenali karena telah terurai.
Pemanfaatan komposter sederhana ini dinilai sesuai dengan kondisi Desa Sidomulyo yang memiliki banyak masyarakat yang bergerak di bidang pertanian dan budidaya tanaman. Sampah organik yang sebelumnya dibuang dapat diolah menjadi kompos dan dimanfaatkan kembali untuk mendukung kebutuhan tanaman.
Menurut mahasiswa KKN MAs Kelompok 82, penggunaan galon bekas juga menunjukkan bahwa pengelolaan lingkungan tidak selalu membutuhkan peralatan mahal. Masyarakat dapat memulai dari barang yang tersedia di rumah dan mengolah sampah secara sederhana.
“Kami ingin menunjukkan bahwa pengelolaan sampah bisa dimulai dari hal kecil di rumah. Galon bekas yang sudah tidak terpakai dan sampah dapur bisa dimanfaatkan kembali sehingga memiliki nilai guna,” jelasnya.
Kegiatan sosialisasi tersebut mendapat perhatian dari para peserta. Selain mendapatkan penjelasan mengenai proses pembuatan komposter, ibu-ibu RW 09 juga diperkenalkan pada manfaat pengolahan sampah organik bagi lingkungan dan tanaman.
Komposter berbahan galon bekas ini menjadi salah satu hasil program KKN MAs Kelompok 82 yang akan ditampilkan dalam Pameran Produk KKN pada acara penutupan KKN MAs di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Pameran tersebut menjadi ruang untuk memperkenalkan berbagai produk, media edukasi, dokumentasi, serta hasil program mahasiswa selama melaksanakan pengabdian di Desa Sidomulyo.
Program tersebut sekaligus menjadi implementasi tema KKN MAs, yaitu “Penguatan Masyarakat Desa yang Berkelanjutan melalui Pemberdayaan SDM dan Potensi Lokal.” Pemanfaatan galon bekas dan sampah organik menjadi komposter menjadi contoh penerapan solusi sederhana berbasis potensi yang tersedia di lingkungan masyarakat.
Melalui kegiatan ini, KKN MAs Kelompok 82 berharap masyarakat, khususnya ibu-ibu RW 09, semakin terbiasa memilah dan mengolah sampah organik dari rumah. Pengelolaan yang dilakukan secara berkelanjutan diharapkan dapat mengurangi jumlah sampah sekaligus menghasilkan kompos yang bermanfaat bagi tanaman dan lingkungan sekitar.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....