Inklusi Bukan Rasa Kasihan, tetapi Kesempatan untuk Berkembang
- 21 Agt 2026 17:04 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang- Inklusi bagi penyandang disabilitas bukan sekadar memberikan rasa iba, melainkan membuka kesempatan untuk belajar, berkembang, bersosialisasi, dan mengejar cita-cita. Pandangan tersebut tercermin dari pengalaman Fajar Arofi yang kini menjalani pendidikan sebagai mahasiswa jurusan Manajemen SDM di salah satu universitas swasta di Malang. Ia ingin dikenal bukan semata-mata karena kondisi disabilitasnya, tetapi sebagai pribadi yang memiliki keinginan untuk belajar, berkembang, dan membangun masa depan. “Kesempatan untuk berkembang, tapi ada harapan,” ujar Fajar.
Dalam dialog Bersama RRI Malang pada Senin (10/8/2026), Fajar mengungkapkan bahwa ia memiliki ketertarikan pada bidang manajemen sumber daya manusia dan menjadikan aktivitas belajar sebagai bagian dari kehidupannya. Ia senang membaca buku dan novel serta menggambarkan pikirannya seperti komputer yang dapat terus menerima pengetahuan. Baginya, kesempatan memperoleh pendidikan dan mengembangkan wawasan merupakan bagian dari proses untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Hal tersebut menunjukkan bahwa akses terhadap pendidikan menjadi salah satu aspek penting dalam mewujudkan lingkungan yang benar-benar inklusif.
Menjadi mahasiswa juga menghadirkan tantangan tersendiri. Fajar mengakui ada sejumlah materi kuliah yang cukup sulit dipahami. Namun, tantangan tersebut tidak membuatnya berhenti belajar. Ia tetap berusaha mengikuti pendidikan sembari menjalani berbagai aktivitas lain, termasuk bersosialisasi dan berkumpul bersama teman. Bagi penyandang disabilitas, kesempatan untuk berada dan berpartisipasi dalam kehidupan sosial menjadi bagian penting dari inklusi, bukan sesuatu yang seharusnya dibatasi karena perbedaan kondisi.
Selain pendidikan, Fajar juga memiliki cita-cita menjadi pengusaha dan berharap usahanya dapat berkembang hingga memiliki toko yang semakin besar. Keinginan tersebut memperlihatkan bahwa penyandang disabilitas memiliki aspirasi yang sama luasnya mengenai masa depan, mulai dari pendidikan, pekerjaan hingga kemandirian. Karena itu, lingkungan perlu memberikan kesempatan yang nyata agar mereka dapat mencoba dan mengembangkan kemampuan tanpa terlebih dahulu dibatasi oleh stigma.
Menurut Fajar, kesempatan untuk berkembang jauh lebih berarti dibandingkan perlakuan yang hanya didasarkan pada rasa kasihan. Kesempatan tersebut dapat berupa ruang untuk belajar, bekerja, bersosialisasi, mencoba hal baru, hingga mengambil keputusan mengenai masa depan. Ketika lingkungan memberikan kepercayaan, penyandang disabilitas memiliki ruang untuk menunjukkan kemampuan dan membangun kepercayaan diri. Inilah makna inklusi yang lebih luas, yaitu memastikan setiap orang memiliki kesempatan untuk berpartisipasi secara bermakna.
Fajar juga menyampaikan pesan kepada anak-anak lain yang mungkin merasa berbeda atau tidak mampu agar tetap memiliki harapan dan berani mengembangkan diri. Ia mendorong mereka untuk tidak berhenti hanya karena merasa memiliki keterbatasan. “Ke depan harus berani berkembang dan enggak boleh mengeluh,” pesan Fajar. Semangat tersebut memperkuat pentingnya menciptakan lingkungan inklusif yang tidak melihat seseorang berdasarkan label, tetapi memberikan kesempatan agar setiap individu dapat berkembang dan menentukan masa depannya sendiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....