Mapala Tursina Ingatkan Petualang Tak Abaikan Persiapan sebelum Outdoor
- 14 Agt 2026 21:18 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Keinginan mengikuti tren petualangan alam tanpa persiapan matang dapat membawa seseorang menghadapi risiko yang tidak diperkirakan sebelumnya. Masyarakat pun diingatkan tidak mengikuti kegiatan outdoor hanya karena takut ketinggalan tren atau sekadar mencari pengalaman baru.
Ketua Umum Mapala Tursina UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Thariq Asir, mengatakan kemampuan fisik saja tidak cukup untuk menghadapi kondisi alam yang selalu berubah dan sulit diprediksi.
“Kemampuan fisik saja tidak cukup untuk menghadapi kondisi alam yang selalu berubah dan sulit diprediksi manusia. Kita harus memahami medan, mempersiapkan perlengkapan, membangun kemampuan intelektual, serta mengetahui berbagai kemungkinan risiko sebelum berangkat,” kata Thariq, Kamis (13/8/2026).
Menurutnya, kondisi alam memiliki karakteristik berbeda dengan lingkungan perkotaan. Cuaca, medan, kadar oksigen, kondisi gua, hingga perubahan lingkungan dapat berubah sewaktu-waktu. Bahkan, kondisi di lokasi yang pernah dikunjungi sebelumnya belum tentu sama ketika kembali didatangi.
“Alam memiliki kondisi yang berbeda dengan lingkungan perkotaan, jadi kita tidak bisa memperlakukannya berdasarkan perhitungan kemampuan fisik semata. Cuaca, medan, oksigen, kondisi gua, maupun perubahan lingkungan bisa berubah sewaktu-waktu. Situasinya bisa berbeda meskipun lokasi tersebut pernah dikunjungi sebelumnya,” ujarnya.
Karena itu, Thariq menilai kegiatan outdoor membutuhkan perencanaan yang matang. Persiapan tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik, tetapi juga mencakup logistik, perlengkapan keselamatan, komunikasi, serta pembagian tugas setiap anggota tim.
Ia juga mengingatkan agar peserta tidak memiliki sikap merasa paling kuat atau paling berpengalaman ketika berada di alam bebas. Sikap tersebut justru dapat meningkatkan risiko keselamatan karena kondisi alam tidak selalu dapat dikendalikan.
“Sikap merasa paling kuat atau paling berpengalaman justru dapat meningkatkan risiko ketika seseorang berhadapan dengan alam. Kita perlu belajar bertanya, tidak jumawa, serta memahami bahwa keselamatan pribadi juga berkaitan dengan keselamatan anggota tim,” imbuhnya.
Menurut Thariq, kegiatan alam bebas seharusnya dilakukan berdasarkan pengetahuan, bukan sekadar keberanian untuk mencoba sesuatu yang dianggap menantang. Pengetahuan mengenai medan menjadi salah satu hal penting untuk memperkirakan risiko sekaligus menentukan perlengkapan yang sesuai dengan kebutuhan perjalanan.
Persiapan juga diperlukan untuk menghadapi kemungkinan cedera selama perjalanan, terutama ketika kegiatan dilakukan di lingkungan dengan kondisi sulit seperti gua. Peralatan pertolongan pertama menjadi bagian penting karena luka yang terlihat ringan dapat menimbulkan risiko lebih besar ketika terjadi di lokasi yang sulit dijangkau.
Selain perlengkapan, komunikasi dan koordinasi dengan pihak sekitar juga perlu dilakukan sebelum kegiatan penelusuran gua. Informasi mengenai lokasi dan aktivitas yang dilakukan sebaiknya disampaikan kepada pihak terkait agar keberadaan tim dapat diketahui apabila sewaktu-waktu terjadi keadaan darurat.
“Komunikasi dan koordinasi dengan pihak sekitar juga menjadi bagian dari persiapan sebelum melakukan kegiatan penelusuran gua. Informasi mengenai lokasi kegiatan perlu disampaikan kepada pihak terkait agar keberadaan tim diketahui apabila terjadi keadaan darurat,” pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....