AI Jadi Asisten Fotografer, Bukan Pengganti Kreativitas

  • 12 Agt 2026 15:47 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang — Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai dimanfaatkan fotografer untuk memperkuat visual produk, termasuk dalam kebutuhan promosi digital. Namun, teknologi tersebut dinilai lebih tepat ditempatkan sebagai alat bantu, sementara kualitas foto tetap bergantung pada konsep, pencahayaan, dan teknik dasar fotografi.

Hal tersebut disampaikan Muhammad Abdul Ghofur, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang sekaligus pemilik Belahan Jiwa Newborn Photography dan Garnish Food Photography. Menurutnya, AI dapat membantu fotografer menambahkan elemen visual tertentu yang sulit atau membutuhkan waktu lebih lama apabila dilakukan secara manual.

Ghofur mencontohkan penggunaan AI dalam fotografi minuman yang membutuhkan tampilan lebih segar dan menarik. Setelah produk difoto dengan pencahayaan dan komposisi yang tepat, AI dapat digunakan untuk menambahkan elemen seperti es sehingga visual produk terlihat lebih menggugah.

“AI bagi kami pembantu, dan hasil AI tetap sangat dipengaruhi kualitas foto awal karena teknologi tersebut tidak dapat sepenuhnya memperbaiki konsep fotografi yang sejak awal kurang baik," jelas Ghofur saat dikonfirmasi RRI, Senin (10/8/2026).

Menurut Ghofur, foto dengan pencahayaan yang cukup dan penataan objek yang tepat akan memberikan hasil lebih maksimal ketika dipadukan dengan teknologi AI. Sebaliknya, foto yang memiliki persoalan mendasar dalam pencahayaan maupun komposisi tetap berpotensi menghasilkan visual yang kurang optimal.

Selain AI, dunia fotografi makanan juga memiliki berbagai teknik untuk membuat produk terlihat lebih menarik di depan kamera. Beberapa fotografer menggunakan bahan tertentu untuk menciptakan efek visual yang sulit diperoleh dari kondisi makanan sebenarnya.

Ghofur mengungkapkan, fotografer makanan terkadang menggunakan minyak atau bahan lain untuk memberikan tampilan tertentu pada makanan. Teknik tersebut dilakukan untuk kebutuhan visual dan bukan berarti kondisi produk yang ditampilkan dalam foto sepenuhnya sama dengan proses pembuatannya.

Ia juga mencontohkan penggunaan bahan transparan sebagai penyangga dalam fotografi makanan agar objek tertentu terlihat lebih tinggi dan menarik. Penataan kondimen serta pengaturan elemen pendukung juga dilakukan untuk menciptakan komposisi yang sesuai dengan konsep visual.

"Tapi visual promosi tetap harus memperhatikan kesesuaian dengan produk sebenarnya. Foto yang terlalu jauh dari kondisi produk dapat menimbulkan persoalan ketika konsumen menerima barang dan menemukan perbedaan antara ekspektasi dengan kenyataan," ujarnya.

Perkembangan AI juga dinilai tidak serta-merta menjadi ancaman bagi fotografer profesional. Justru, teknologi tersebut dapat membantu pekerjaan fotografer selama digunakan untuk melengkapi proses kreatif dan bukan menggantikan kemampuan dasar dalam menghasilkan foto.

Menurut Ghofur, fotografer tetap perlu memahami pencahayaan, sudut pengambilan gambar, komposisi, serta konsep sebelum memanfaatkan teknologi AI. Kemampuan tersebut menjadi fondasi agar teknologi dapat digunakan secara tepat untuk menghasilkan visual yang sesuai kebutuhan klien.

Pemanfaatan AI tersebut menunjukkan bahwa perkembangan teknologi digital tidak selalu harus dipandang sebagai persaingan antara manusia dan mesin. Bagi pekerja kreatif, teknologi dapat menjadi asisten yang mempercepat pekerjaan sekaligus membuka peluang eksplorasi visual baru.

Ghofur juga mengingatkan pelaku usaha agar tidak hanya mengejar tampilan visual yang menarik, tetapi tetap memperhatikan kualitas produk yang ditawarkan. Dengan demikian, foto dapat membangun ketertarikan konsumen tanpa menciptakan ekspektasi yang terlalu jauh dari kenyataan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....