Banyak UMKM Masih Takut Go Digital, Terungkap Penyebab dan Solusinya
- 06 Jul 2026 12:47 WIB
- Malang
RRI.CO.ID Malang – Meskipun digitalisasi semakin masif di berbagai sektor, masih banyak pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang belum sepenuhnya beralih ke sistem digital. Sebagian bahkan masih merasa metode konvensional sudah cukup untuk menjalankan usaha mereka sehari-hari.
Hal ini menjadi sorotan Rachmat Anggara, CEO Qasir.id atau yang ia sebut sebagai “Cuan Everything Officer”, dalam dialog di RRI Pro 1 Malang. Ia menilai, penolakan terhadap digitalisasi bukan semata karena ketidaktahuan, tetapi lebih banyak disebabkan oleh pengalaman penggunaan teknologi yang belum sesuai dengan kebutuhan pelaku usaha mikro.
“Kadang kita sebagai penyedia teknologi terlalu fokus membuat tools yang bagus, lengkap, tapi ternyata tidak dibutuhkan oleh UMKM,” ujar Angga ketika dikonfirmasi pada Sabtu (4/7/2026).
Menurutnya, salah satu kesalahan umum pengembang aplikasi adalah menghadirkan sistem yang terlalu kompleks bagi pelaku usaha kecil. Akibatnya, teknologi justru dianggap memperlambat proses kerja mereka.
“Misalnya yang tadinya transaksi cuma dua detik, sekarang jadi lima sampai sepuluh detik karena harus buka aplikasi dulu. Itu yang mereka anggap ribet,” jelasnya.
Angga menegaskan bahwa tantangan terbesar digitalisasi UMKM bukan hanya pada akses teknologi, tetapi pada kesesuaian antara teknologi dan kebiasaan pengguna di lapangan. Banyak pelaku usaha yang sudah nyaman dengan cara lama, seperti mencatat manual atau sekadar mengandalkan ingatan.
“Banyak yang bilang, ‘Saya sudah 20 tahun pakai buku catatan, baik-baik saja kok.’ Jadi mereka merasa belum perlu berubah,” katanya.
Padahal, menurutnya, kondisi tersebut bisa menjadi hambatan ketika skala usaha mulai berkembang. Tanpa sistem yang rapi, pelaku usaha akan kesulitan mengelola operasional, apalagi jika sudah mulai membuka cabang atau menambah jumlah transaksi.
Ia mencontohkan bagaimana beberapa pelaku UMKM baru menyadari pentingnya digitalisasi ketika usaha mereka mulai berkembang pesat dan tidak lagi bisa dikelola secara manual.
“Awalnya kecil, semua terasa cukup. Tapi ketika mulai buka cabang, baru terasa sulit kalau tidak ada pencatatan yang rapi,” ujarnya.
Angga juga menyoroti bahwa sebagian pelaku UMKM bukan tidak mau berkembang, tetapi lebih kepada tidak memiliki dorongan atau awareness terhadap pentingnya digitalisasi.
“Mayoritas itu bukan tidak mau, tapi merasa sudah cukup. Padahal dunia usaha sekarang sudah berubah cepat sekali,” tambahnya.
Di sisi lain, ia menilai penyedia teknologi juga memiliki tanggung jawab untuk membuat sistem yang lebih sederhana dan mudah dipahami. Pendekatan yang terlalu teknis, menurutnya, justru akan memperlebar jarak antara teknologi dan pelaku UMKM.
“Kalau kita mau dorong digitalisasi UMKM, ya harus dibuat sesederhana mungkin. Tidak boleh bikin mereka merasa belajar teknologi itu sulit,” tegasnya.
Ia menambahkan, pendekatan yang efektif adalah dengan menyasar pelaku usaha yang sudah memiliki kesadaran untuk berkembang, bukan memaksa semua orang langsung berubah dalam waktu singkat.
“Yang kita bantu itu yang sudah punya awareness dulu. Kalau dipaksa semua langsung berubah, akan sulit,” katanya.
Ia berharap ke depan semakin banyak pelaku UMKM yang mulai membuka diri terhadap teknologi, bukan karena tren semata, tetapi karena kebutuhan untuk mengembangkan usaha secara berkelanjutan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....