Virtual Assistant Jadi Peluang Karier Fleksibel di Era Digital

  • 28 Jun 2026 12:46 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang: Profesi Virtual Assistant (VA) semakin dilirik sebagai salah satu peluang karier yang menjanjikan di era digital. Seiring berkembangnya sistem kerja jarak jauh dan meningkatnya kebutuhan profesional maupun pelaku usaha akan dukungan operasional yang efisien, peran Virtual Assistant kini tidak lagi sebatas mengelola administrasi. Mereka juga dipercaya menangani berbagai tugas strategis, mulai dari pengelolaan media sosial, penjadwalan pertemuan, komunikasi dengan klien hingga membantu koordinasi proyek.

Dalam dialog Bersama RRI Malang pada Jumat (26/6/2026), Executive Assistant sekaligus anggota Malang Virtual Assistant Community (MVC), Teylita, menjelaskan bahwa masih banyak masyarakat yang belum memahami cakupan pekerjaan seorang Virtual Assistant. Menurutnya, profesi ini merupakan bentuk layanan profesional yang membantu kebutuhan operasional bisnis secara daring tanpa harus berada di kantor yang sama dengan klien. Bahkan, seorang VA dapat bekerja untuk beberapa klien sekaligus selama mampu mengatur waktu dan menjaga kualitas pekerjaan.

"Banyak yang mengira Virtual Assistant hanya mengurus email. Padahal pekerjaannya jauh lebih luas. Virtual Assistant juga bisa menangani email management, menghubungi klien untuk membuat appointment, mengelola LinkedIn, sampai mewakili meeting ketika klien sedang berada di luar kota," ujar Teylita.

Ia mengungkapkan, model kerja berbasis proyek atau pembayaran per jam menjadi keuntungan bagi kedua belah pihak. Perusahaan dapat menghemat biaya operasional karena tidak harus merekrut pegawai penuh waktu, sementara Virtual Assistant memiliki kesempatan memperoleh penghasilan dari beberapa klien dalam waktu yang bersamaan. Fleksibilitas tersebut menjadi salah satu alasan mengapa profesi ini semakin diminati, terutama oleh generasi muda yang menginginkan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Menurut Teylita, seseorang tidak harus memiliki latar belakang pendidikan tertentu untuk menjadi Virtual Assistant. Yang jauh lebih penting adalah kemampuan menunjukkan nilai tambah kepada calon klien melalui portofolio, pengalaman, serta solusi yang dapat diberikan. "Klien tidak terlalu melihat kita lulusan apa. Mereka lebih ingin tahu apa yang bisa kita kerjakan, skill apa yang kita miliki, dan bagaimana kita bisa membantu menyelesaikan masalah mereka," jelasnya.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa profesi ini tetap membutuhkan komitmen tinggi, kemampuan komunikasi yang baik, serta kedisiplinan dalam memenuhi tenggat waktu. Dengan meningkatnya tren kerja remote di berbagai negara, Teylita optimistis peluang Virtual Assistant asal Indonesia akan terus berkembang, terutama bagi mereka yang memiliki kemampuan beradaptasi dengan teknologi dan mampu memberikan layanan profesional kepada klien dari berbagai belahan dunia.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....