Jelajah Kampung Dorong Ketahanan Pangan Berbasis Potensi Lokal

  • 23 Jun 2026 07:06 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Upaya memperkuat ketahanan pangan masyarakat terus berkembang melalui pendekatan yang tidak hanya bertumpu pada produksi pangan konvensional, tetapi juga pada pemanfaatan potensi lingkungan, budaya, dan kebiasaan masyarakat yang telah lama hidup di kampung.

Di tengah arus digitalisasi dan kemudahan teknologi informasi, setiap aktivitas masyarakat kini mudah terdokumentasi dan dipublikasikan. Kondisi ini dinilai membuka peluang sekaligus tantangan, terutama dalam menjaga keseimbangan antara pengembangan ekonomi, pelestarian lingkungan, dan identitas kampung.

Salah satu pendekatan yang dikembangkan adalah dengan mengoptimalkan potensi lokal tanpa harus mengubah karakter asli kampung menjadi sekadar destinasi wisata. Sebaliknya, kampung dipandang sebagai ruang hidup yang memiliki sistem ekonomi, pangan, dan budaya yang sudah berjalan secara alami.

“Teknologi informasi membuat setiap orang bisa meng-upload apa saja. Bukan berarti menolak orang luar, tetapi ketika kampung dibawa ke branding desa wisata, mindset-nya sudah berbeda. Kalau kita rawat, justru lebih kuat,” ujar Muhammad Anwar, Founder Jelajah Kampung Beyond Tourism dan Pendiri Probumi Makmur Bersama saat berbincang bersama RRI, Senin (22/6/2026).

Ia mencontohkan kawasan Bonpring di Sanankerto, Turen, yang memiliki sumber mata air besar dan mengaliri dua kecamatan dengan nilai ekonomi yang signifikan setiap tahunnya. Menurutnya, pengelolaan lingkungan seperti air dan bambu menjadi kunci keberlanjutan ekonomi masyarakat tanpa harus selalu menekankan sektor pariwisata.

“Bonpring itu punya mata air besar, mengaliri dua kecamatan. Kita jaga airnya, jaga bambunya. Orang tertarik, tapi bonusnya ada aktivitas. Kita bikin kolam tanpa mengganggu sumber air dan bambunya,” jelasnya.

Selain itu, ia juga menyoroti aktivitas masyarakat perkotaan seperti di kawasan Kayutangan, Malang, yang tetap mampu mengoptimalkan ruang hidup melalui aktivitas ekonomi berbasis interaksi sosial tanpa harus berpindah tempat.

Dalam pengembangan ketahanan pangan, ia menyebut pendekatan sederhana yang dapat dilakukan masyarakat, yaitu mengenali, mengeksplorasi, dan menghidupkan kembali potensi lingkungan sekitar.

“Yang paling gampang ada tiga pendekatan: kenali, eksplorasi, dan nyatakan. Di kampung itu banyak potensi, dari sawah, sumber air, sampai budaya. Itu bisa jadi aktivitas rekreasi sekaligus ekonomi,” ujarnya.

Ia mencontohkan sejumlah aktivitas sederhana seperti ngeramban atau memetik tanaman liar yang bisa dimakan seperti semanggi, bayam liar, dan krokot dapat menjadi bagian dari konsep ketahanan pangan berbasis memori kolektif masyarakat.

“Pernah tidak memetik dedaunan dan ubi-ubian di sekitar rumah? Itu namanya ngeramban. Kita ajak orang jelajah rasa, ada tanaman yang bisa dimakan seperti semanggi, krokot, bayam liar,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa pendekatan ini tidak hanya bernilai budaya, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi aktivitas ekonomi yang tetap menjaga kelestarian lingkungan.

“Selama ini ketahanan pangan itu mendatangkan dari luar. Padahal kalau kita merawat lingkungan, apa yang tumbuh di sekitar kita itu sudah cukup. Itu yang kita jaga lewat memori kolektif,” tambahnya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa masyarakat kampung memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan antara ekonomi, budaya, dan lingkungan tanpa harus meninggalkan identitas lokal.

“Orang kampung itu keren. Kita ini hanya perlu memilih, mau keluar atau ke dalam, tapi tetap menjaga apa yang kita rawat bersama,” pungkasnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....