Kenali Tanda Ketergantungan dan Dampak Adiksi Nikotin

  • 15 Jun 2026 13:10 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang: Ketergantungan nikotin menjadi salah satu alasan utama mengapa banyak perokok mengalami kesulitan untuk berhenti merokok. Meski telah memahami berbagai risiko kesehatan yang ditimbulkan oleh rokok, sebagian orang tetap merasa terdorong untuk terus merokok karena tubuh dan otaknya telah mengalami ketergantungan terhadap nikotin. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi kesehatan fisik, tetapi juga berdampak pada kesehatan mental dan kualitas hidup seseorang.

Dalam dialog bersama RRI Malang, dr. Miftakhul Huda, Sp.KJ, psikiater dari RS Radjiman Wediodiningrat Lawang menjelaskan bahwa ketergantungan nikotin dapat dikenali melalui beberapa tanda yang sering kali tidak disadari oleh perokok. Salah satunya adalah munculnya keinginan yang kuat untuk merokok dalam situasi tertentu atau saat tidak merokok dalam waktu yang relatif singkat. “Seseorang dapat dikatakan mengalami ketergantungan nikotin apabila muncul dorongan yang kuat untuk merokok, sulit mengendalikan jumlah rokok yang dikonsumsi, dan tetap merokok meskipun sudah mengetahui dampak buruknya terhadap kesehatan,” ujar dr. Miftakhul Huda.

Selain itu, gejala putus nikotin juga menjadi indikator penting adanya ketergantungan. Ketika tidak merokok, seseorang dapat mengalami rasa gelisah, mudah marah, sulit berkonsentrasi, gangguan tidur, hingga peningkatan nafsu makan. Gejala-gejala tersebut biasanya membuat seseorang kembali merokok untuk mengurangi ketidaknyamanan yang dirasakan. “Nikotin memengaruhi sistem penghargaan di otak. Saat asupan nikotin dihentikan, tubuh akan bereaksi dan memunculkan berbagai gejala yang membuat seseorang ingin merokok kembali,” jelasnya pada Jumat (12/6/1026).

Adiksi nikotin juga memberikan dampak jangka panjang terhadap kesehatan fisik. Kebiasaan merokok meningkatkan risiko berbagai penyakit serius, mulai dari penyakit jantung, stroke, gangguan paru-paru kronis, hingga berbagai jenis kanker. Tidak hanya itu, paparan zat berbahaya dalam rokok juga dapat menurunkan daya tahan tubuh dan mempercepat proses penuaan. Risiko tersebut akan semakin meningkat apabila kebiasaan merokok berlangsung dalam waktu yang lama dan dalam jumlah yang banyak.

Dari sisi kesehatan mental, ketergantungan nikotin dapat membuat seseorang mengalami ketergantungan psikologis yang kuat. Banyak perokok merasa rokok membantu mengurangi stres atau memberikan rasa nyaman, padahal efek tersebut hanya bersifat sementara. “Banyak orang menganggap rokok dapat menenangkan pikiran, padahal yang sebenarnya terjadi adalah nikotin meredakan gejala putus nikotin yang muncul sebelumnya. Akibatnya terbentuk siklus ketergantungan yang terus berulang,” kata dr. Miftakhul Huda.

Ia mengingatkan bahwa mengenali tanda-tanda ketergantungan sejak dini merupakan langkah penting untuk mencegah dampak yang lebih besar. Menurutnya, semakin cepat seseorang menyadari adanya adiksi nikotin dan mulai mencari bantuan, semakin besar peluang untuk berhasil berhenti merokok. “Ketergantungan nikotin adalah kondisi yang dapat diatasi. Jangan ragu mencari dukungan dari keluarga maupun tenaga kesehatan agar proses berhenti merokok dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan,” pungkasnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....