Peneliti UB Nilai Kesadaran Masyarakat Jadi Kunci Hadapi Krisis Air di Malang Raya
- 13 Mei 2026 16:20 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang – Ancaman krisis air di Malang Raya dinilai tidak hanya dipengaruhi faktor lingkungan dan perubahan iklim, tetapi juga berkaitan erat dengan perilaku masyarakat dalam memanfaatkan sumber daya air. Peneliti Pusat Studi Pesisir dan Kelautan (PSPK) Universitas Brawijaya (UB), Ilham Misbakudin Al Zamzami, S.Psi., M.P., menilai peningkatan kebutuhan air yang tidak diimbangi kesadaran konservasi dapat mempercepat terjadinya krisis di kawasan perkotaan.
Hal tersebut disampaikan Ilham kepada RRI Malang pada Selasa (13/5/2026). Menurutnya, masyarakat masih banyak yang menganggap air sebagai sumber daya yang akan selalu tersedia tanpa batas. Padahal, cadangan air tanah membutuhkan waktu sangat lama untuk pulih kembali setelah dieksploitasi secara terus-menerus. “Banyak orang belum menyadari bahwa penggunaan air berlebihan akan berdampak jangka panjang. Padahal air tanah membutuhkan waktu lama untuk pulih kembali, sementara kebutuhan masyarakat terus meningkat,” ujarnya.
Ilham melihat ancaman krisis air di Malang Raya harus dijawab melalui perubahan pola pikir masyarakat tentang pentingnya konservasi lingkungan. Menurutnya, solusi persoalan air tidak cukup hanya dengan pembangunan infrastruktur atau teknologi penyediaan air bersih, tetapi juga memerlukan perubahan perilaku sehari-hari. Ia mencontohkan langkah sederhana seperti menghemat penggunaan air, memanfaatkan air hujan, serta menjaga ruang hijau dapat memberikan dampak besar apabila dilakukan secara kolektif.
Dari sudut pandang sosial, Ilham menilai generasi muda memiliki peran penting dalam membangun budaya peduli lingkungan. Karena itu, dalam World Water Week UB 2026, panitia menghadirkan lomba esai dan video kampanye konservasi air sebagai bentuk edukasi publik. Menurutnya, mahasiswa tidak boleh hanya menjadi penonton dalam isu lingkungan, tetapi harus ikut terlibat aktif dalam menyuarakan solusi dan aksi nyata. “Kami ingin mahasiswa tidak hanya hadir sebagai peserta, tetapi juga aktif menyuarakan kepedulian melalui karya, gagasan, dan aksi nyata. Karena keberlanjutan air adalah tanggung jawab bersama,” katanya.
Sementara itu, Wakil Ketua Pelaksana World Water Week UB 2026, Abdul Aziz Jaziri, S.Psi., M.Sc., Ph.D., menambahkan bahwa persoalan air kini menjadi tantangan global yang membutuhkan kolaborasi internasional. Ia menegaskan bahwa UB terus memperkuat networking bersama UNESCO dan berbagai mitra global untuk mengembangkan riset dan inovasi terkait keamanan air dan lingkungan. Menurutnya, sinergi akademik internasional penting untuk menghadirkan solusi yang lebih komprehensif terhadap ancaman krisis air di masa depan.
Melalui forum internasional tersebut, UB berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga sumber daya air semakin meningkat. Selain memperkuat jejaring global melalui pengembangan UNESCO Chair bertema Integrated Ecohydrology and Water Security in Coastal Areas (SEACoM), UB juga tengah menyiapkan peluncuran buku translasi bertema keberlanjutan air sebagai media edukasi publik. Langkah itu diharapkan mampu mendorong lahirnya budaya konservasi air yang lebih kuat di tengah masyarakat Malang Raya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....