UB Dorong Kolaborasi Global untuk Menjawab Ancaman Krisis Air di Malang Raya
- 13 Mei 2026 13:20 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Universitas Brawijaya (UB) memperkuat upaya menghadapi ancaman krisis air di Malang Raya melalui pengembangan kolaborasi internasional bersama UNESCO dan berbagai mitra global. Langkah tersebut diwujudkan dalam rangkaian World Water Week UB 2026 melalui forum Water Future for All 2026 yang digelar di Gedung Pandhita Majapahit UB, Senin (11/5/2026). Kegiatan bertema “Alirkan Keadilan: Bijak Gunakan Air, Beri Ruang untuk Sesama” itu menjadi ruang diskusi akademik sekaligus penguatan jejaring internasional dalam bidang keberlanjutan air dan lingkungan.
Wakil Ketua Pelaksana World Water Week UB 2026 sekaligus Peneliti Pusat Studi Pesisir dan Kelautan (PSPK) UB, Abdul Aziz Jaziri, S.Psi., M.Sc., Ph.D., mengatakan bahwa persoalan air kini telah berkembang menjadi tantangan global yang membutuhkan kerja sama lintas negara dan lintas disiplin ilmu. Menurutnya, ancaman krisis air di Malang Raya tidak dapat diselesaikan hanya dengan pendekatan lokal, melainkan memerlukan kolaborasi riset, kebijakan, dan inovasi berkelanjutan. “Isu air bukan lagi persoalan lokal, tetapi persoalan global yang membutuhkan kolaborasi internasional. Karena itu UB ingin menghadirkan forum yang tidak hanya membahas persoalan secara akademik, tetapi juga membangun aksi dan jejaring nyata,” ujarnya.
Aziz menjelaskan bahwa tekanan terhadap sumber daya air di Malang Raya terus meningkat akibat perubahan tata guna lahan, pertumbuhan kawasan permukiman, serta berkurangnya daerah resapan air. Kondisi tersebut dinilai berpotensi memicu penurunan kualitas dan kuantitas sumber air apabila tidak diantisipasi sejak dini. Ia menilai pembangunan yang tidak memperhatikan daya dukung lingkungan akan mempercepat ancaman krisis air di masa mendatang. “Krisis air bisa terjadi lebih cepat jika kawasan resapan terus berkurang. Karena itu diperlukan keseimbangan antara pembangunan dan perlindungan lingkungan agar sumber air tetap terjaga,” katanya.
Sebagai bagian dari solusi jangka panjang, UB saat ini mendorong pengembangan UNESCO Chair bertema Integrated Ecohydrology and Water Security in Coastal Areas (SEACoM). Menurut Aziz, penguatan jejaring internasional menjadi langkah penting untuk memperluas kerja sama dalam bidang riset, publikasi ilmiah, pertukaran akademik, hingga pengembangan program keberlanjutan lingkungan. “Kami ingin memperkuat networking dengan berbagai UNESCO Chair dan mitra internasional agar berkembang menjadi kolaborasi riset, publikasi, pertukaran akademik, hingga pengembangan program keberlanjutan bersama,” jelasnya.
Melalui forum tersebut, UB berharap isu krisis air di Malang Raya dapat menjadi perhatian bersama sebelum memasuki kondisi yang lebih serius. Penguatan jejaring global, edukasi publik, dan kolaborasi lintas sektor diharapkan menjadi fondasi penting dalam menciptakan pengelolaan air yang berkelanjutan bagi generasi mendatang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....