Dari Kampung Padat menuju Zero Waste

  • 10 Mei 2026 11:37 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID – Malang: Warga RT 04 RW 03 Kelurahan Ketawang Gede mengembangkan pengelolaan sampah mandiri untuk mengurangi ketergantungan terhadap tempat pembuangan sementara lingkungan sekitar. Program tersebut lahir karena wilayah Ketawang Gede belum memiliki TPS sendiri sehingga persoalan sampah sering muncul bertahun-tahun lamanya.

“Sebelumnya, seluruh sampah rumah tangga dan kos-kosan diangkut menuju TPS milik Kelurahan Dinoyo setiap harinya secara rutin bersama-sama. Namun keterbatasan jam operasional TPS membuat warga kesulitan membuang sampah ketika pengangkutan terlambat ataupun mengalami hambatan teknis tertentu. Permasalahan semakin rumit ketika petugas pengangkut sampah sakit, mengundurkan diri, hingga meminta perubahan sistem kerja penarikan sampah lingkungan. Kondisi ini mendorong warga mulai memikirkan solusi pengelolaan sampah berbasis lingkungan secara lebih mandiri dan berkelanjutan kedepannya,” ujar drg. Dani Sugeng - Ketua RT 04 RW 03 Ketawanggede - Pegiat Pengelolaan Sampah Organik Berbasis RT, Sabtu (9/5/2026).

Warga kemudian memutuskan memprioritaskan pengelolaan sampah organik karena jumlahnya mencapai enam puluh satu persen total sampah perkotaan Malang. Langkah tersebut menjadi bagian awal mewujudkan cita-cita zero waste agar sampah tidak lagi berakhir ditempat pembuangan akhir nantinya.

“Pengambilan sampah organik dilakukan setiap hari Selasa, Kamis, dan Minggu setelah warga memilah sampah masing-masing dari rumah terlebih dahulu. Sosialisasi dilakukan kepada ibu rumah tangga, penghuni kos, hingga pengelola warung agar mendukung gerakan pengelolaan sampah bersama secara konsisten. Sampah organik yang terkumpul kemudian dicacah menggunakan mesin khusus buatan berbasis energi panel surya modern ramah lingkungan. Mesin pencacah berkekuatan 900 Watt ini sepenuhnya menggunakan listrik dari solar panel untuk mendukung operasional pengolahan sampah warga,” katanya.

Setelah dicacah, sampah organik dimasukkan kedalam biopori raksasa berdiameter lima puluh sentimeter dengan kedalaman mencapai seratus lima puluh sentimeter. Larutan EM4 dan molase kemudian ditambahkan sebagai katalis agar proses penguraian sampah organik berlangsung lebih cepat secara alami.

“Ada empat biopori raksasa yang sudah kami siapkan, karena proses pembentukan pupuk kompos membutuhkan waktu sekitar empat bulan hingga siap digunakan nantinya. Sistem tersebut memungkinkan panen kompos dilakukan bergantian sehingga pengelolaan sampah organik tetap berjalan secara berkelanjutan setiap bulannya,” ungkapnya.

Wilayah RT tersebut memiliki 76 bangunan, 40 kepala keluarga dengan sekitar 30 bangunan digunakan sebagai unit usaha masyarakat setempat sehari-hari. Kondisi kawasan yang padat aktivitas usaha membuat persoalan sampah menjadi tantangan penting bagi lingkungan sekitar selama bertahun-tahun sebelumnya.

“Keberhasilan program dimulai dengan menunjukkan kesiapan sarana serta bukti nyata pengelolaan sampah kepada seluruh masyarakat sekitar. Yang pertama itu yang dilakukan membuat membuat kesan bahwa kami bekerja, saya menyiapkan sarana prasarana terlebih dahulu baru mengajak masyarakat. Hal ini penting agar masyarakat tidak merasa sia-sia untuk memilah sampah. Ketika masyarakat tahu bahwa kita bergerak, kita bekerja, maka mau bersama-sama ikut untuk mendukung program ini,” pesannya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....