Transisi Energi Terbarukan Dinilai 350 Indonesia Mendesak

  • 10 Mei 2026 11:16 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID – Malang: Keterlambatan pengembangan energi terbarukan dinilai memperburuk dampak krisis iklim yang kini mulai dirasakan masyarakat Indonesia secara langsung. Bencana hidrometeorologi seperti banjir bandang hingga cuaca ekstrem disebut menjadi bagian nyata akibat perubahan iklim yang terus meningkat.

“Indonesia sebenarnya telah mengalami ribuan bencana yang berkaitan dengan perubahan iklim sepanjang tahun lalu secara nasional. Banjir besar di Sumatera menjadi contoh dampak serius ketika upaya pengurangan emisi dan transisi energi berjalan lambat sekarang. Bencana akibat perubahan iklim diperkirakan semakin sering terjadi apabila Indonesia tidak segera mempercepat penggunaan energi terbarukan nasional. Peningkatan suhu global serta tingginya emisi karbon disebut memperbesar ancaman kerusakan lingkungan dan keselamatan masyarakat di berbagai daerah,” kata Jeri Asmoro - Digital Campaigner 350 Indonesia, Sabtu (9/05/2026).

Selain ancaman lingkungan, keterlambatan transisi energi juga dinilai membahayakan ketahanan energi nasional dalam jangka panjang bagi Indonesia. Ketergantungan terhadap energi fosil membuat Indonesia rentan terdampak gejolak ekonomi global terutama perubahan harga minyak dunia secara signifikan.

“Subsidi bahan bakar minyak yang terus meningkat ini membebani anggaran negara sehingga mengurangi alokasi sektor pembangunan lainnya nasional. Dana besar yang digunakan menjaga stabilitas energi seharusnya dapat dimanfaatkan memperkuat pendidikan, kesehatan, maupun kesejahteraan masyarakat luas. Indonesia sebelumnya dikenal sebagai negara pengekspor minyak dan pernah tergabung dalam organisasi eksportir minyak dunia atau OPEC dahulu. Namun sekarang berubah, karena kebutuhan konsumsi energi nasional jauh lebih besar dibandingkan kemampuan produksi dalam negeri sekarang,” imbuhnya.

Situasi serupa diperkirakan terjadi pada sektor batu bara apabila Indonesia tidak segera melakukan transisi menuju energi terbarukan berkelanjutan nasional. Cadangan batu bara Indonesia hanya sekitar tiga persen dunia, sementara tingkat ekspornya termasuk terbesar secara global hingga sekarang.

“Beberapa negara tujuan ekspor batu bara justru memiliki cadangan energi lebih besar dibandingkan Indonesia saat ini. Jika kita terus bergantung pada ekspor energi fosil, dikhawatirkan semakin bergantung terhadap pasokan energi negara lain kedepannya,” ujarnya.

Di sisi lain, masyarakat juga mulai menunjukkan minat menggunakan energi terbarukan seperti panel surya untuk kebutuhan listrik rumah tangga sehari-hari sekarang. Namun tingginya biaya pemasangan dan keterbatasan informasi masih menjadi kendala utama bagi sebagian besar masyarakat Indonesia saat ini.

“Dukungan pemerintah sangat penting memperluas penggunaan energi terbarukan agar literasi masyarakat berkembang lebih cepat nasional. Gerakan masyarakat sipil dinilai belum cukup apabila tidak dibarengi kebijakan pemerintah yang serius mendukung transisi energi berkelanjutan Indonesia,” tutupnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....