MBG Gerakkan Ekonomi Desa, Petani Pisang Rasakan Multiplier Effect
- 18 Feb 2026 17:38 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Bagi sebagian petani, fluktuasi harga dan ketidakpastian pasar menjadi risiko yang kerap menghantui. Namun sejak Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berjalan, sebagian pelaku usaha pertanian mulai merasakan stabilitas permintaan yang lebih terukur.
Dalam dialog Malang Menyapa di RRI Malang, Muhammad Sihddiq menjelaskan bahwa lonjakan order tidak hanya berdampak pada omzet, tetapi juga penyerapan tenaga kerja. Saat ini, usaha Aca Banana melibatkan tenaga kerja lokal mulai dari kebun, gudang sortir, hingga distribusi. “Di kebun ada empat orang, di gudang lima orang, belum termasuk tim kirim. Tetangga sekitar ikut merasakan manfaatnya,” ujarnya.
Program MBG juga membuka ceruk pasar baru melalui pemanfaatan pisang Grade B dan C. Secara ekonomi, hal ini memperluas spektrum nilai jual hasil panen. Sebelumnya, grade tersebut sering dihargai lebih rendah di pasar umum. Kini, justru menjadi komoditas utama untuk suplai sekolah.
Meski demikian, Sihddiq menyadari pentingnya menjaga keseimbangan pasar. Permintaan dari pasar modern tetap stabil, sehingga distribusi dibagi sesuai segmen. “Kalau terlalu bergantung pada satu pasar saja berisiko. Jadi tetap kami jaga suplai ke retail modern,” katanya.
Dari sisi keberlanjutan, ia menilai kesiapan rantai pasok dan manajemen produksi menjadi kunci jika MBG diperluas secara nasional. Ekspansi lahan harus dibarengi mitigasi risiko cuaca, hama, serta konsistensi kualitas. “Jangan sampai permintaan naik tapi kualitas turun. Kepercayaan itu modal utama,” tegasnya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa MBG bukan sekadar program gizi, melainkan memiliki efek berganda bagi ekonomi lokal. Dari kebun di Kalirejo, pisang Cavendish lokal kini tak hanya mengenyangkan siswa, tetapi juga menghidupkan perputaran ekonomi desa.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....