Serat Ulem: Surat Undangan Tradisional di Jawa

  • 26 Jun 2024 21:29 WIB
  •  Malang

Serat ulem, atau yang dikenal sebagai surat undangan tradisional di Jawa, merupakan salah satu wujud kearifan lokal yang masih lestari hingga kini.

KRT Eko Agus Susilo S.Sos M.Si, Budayawan dan praktisi Pranatacara ( MC pernikahan adat Jawa) yang juga sebagai dosen di Universitas Merdeka Malang mengungkapkan kepada RRI dalam acara Pesona Budaya, serat ulem tidak hanya sekadar undangan, tetapi juga mengandung nilai-nilai budaya dan adat istiadat yang kental.

"Serat ulem biasanya digunakan untuk mengundang kerabat, tetangga, dan teman dekat pada acara-acara hajatan seperti pernikahan, sunatan, atau selamatan. Dalam penulisannya, menggunakan bahasa Jawa dengan gaya bahasa yang halus dan penuh tata krama" ungkapnya, Rabu (26/6/2024).

Penggunaan bahasa yang sopan dan penuh hormat mencerminkan penghargaan dan niat baik dari tuan rumah kepada tamu yang diundang. Setiap kata yang tertulis dalam serat ulem disusun dengan hati-hati agar tidak menyinggung perasaan penerima, sejalan dengan falsafah hidup masyarakat Jawa yang menjunjung tinggi kesopanan dan kebersamaan.

"Selain itu, serat ulem biasanya dihias dengan aksara Jawa dan motif-motif tradisional yang menambah keindahan dan keunikan surat undangan tersebut" tambahnya.

Hiasan pada surat undangan tidak hanya berfungsi sebagai pemanis, tetapi juga memiliki makna simbolis yang mendalam.

"Misalnya, motif batik yang digunakan seringkali mencerminkan status sosial atau harapan dari penyelenggara acara. Serat ulem tidak hanya menjadi media komunikasi, tetapi juga sebagai bentuk ekspresi budaya," lanjutnya

Proses pembuatan serat ulem juga melibatkan banyak tahapan dan memerlukan keahlian khusus. Dimulai dari penulisan teks undangan, pemilihan kertas yang sesuai, hingga penghiasan dengan motif-motif tradisional. Seluruh proses ini menunjukkan betapa berharganya setiap momen hajatan dalam budaya Jawa, yang dianggap sebagai kesempatan untuk mempererat tali silaturahmi dan memperkokoh hubungan sosial antar anggota masyarakat.

Eko juga menambahkan, dalam era digital seperti sekarang, penggunaan serat ulem mungkin mulai tergeser oleh undangan elektronik.

"Tapi masih banyak masyarakat Jawa yang masih mempertahankan tradisi ini sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan budaya leluhur, karena serat ulem bukan sekadar undangan, tetapi merupakan simbol dari kekayaan budaya Jawa yang sarat dengan makna dan nilai-nilai luhur," pungkasnya

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....