Mengenal Strawberry, Istilah Rapuh Mental Gen-Z
- 11 Jun 2024 18:07 WIB
- Malang
KBRN, Malang : Istilah generasi 'Strawberry' sering terdengar saat membicarakan kerapuhan mental anak muda jaman sekarang. Beberapa orang berpendapat mereka adalah generasi Z yang lahir di tahun 1997 hingga 2012. Sedang ada pula yang menganggap generasi Alpha kelahiran 2010 hingga 2020 yang masuk dalam istilah ini. Awal mula munculnya istilah ini tidak dapat diprediksi sejak kapan. Tetapi secara masif istilah ini tiba-tiba popular begitu saja. Saat dihubungi RRI, psikolog, Kang Jay mengatakan bahwa istilah ini dibuat oleh orang awam berdasarkan pengetahuannya sendiri, Selasa (11/6/2024).
“Jadi sebenarnya ini berangkat dari filosofi buah strawberry yang mana dari segi tampilan ini cantik,bagus,warnanya menggoda, dan harganya pun juga lumayan. Tapi ketika diinjak buah ini becek, lemah gitu. Jadi intinya buah ini di analogikan kepada anak-anak yang dari fisik oke tapi sebenernya rapuh,” jelasnya.
Berbeda dengan konsep generasi baby boomer, millennial, X, Z, Alpha dst. Istilah generasi strawberry tidak termasuk dalam kelompok tersebut. Ia mengatakan bahwa secara riset, pembahasan generasi strawberry ini masih sedikit.
“Yang saya tahu hanya beberapa saja yang mempopulerkan istilah ini di Indonesia. Itu pun bukan dari kalangan psikologi. Seperti Prof. Rhenald Kasali, menulis buku tentang generasi strawberry ini. Ia menjelaskan seperti apa karakteristik generasi ini. Sedang dalam segi psikologi belum banyak yang membahas. Pernah juga saya baca awal istilah ini itu di Taiwan,” tambahnya.
Orang awam memberi label anak muda ini karena adanya kecenderungan mereka berkeluh kesah di media sosial. Sehingga tak heran banyak orang melihat mereka sebagi seorang rapuh yang tidak kuat menghadapi berbagai tantangan.
“Sebagai generasi yang akrab dengan media sosial, mereka sering menumpahkan keluh kesahnya disana. Seperti contohnya beban awal perkuliahan. Padahal sebenarnya keluhan yang ditulis ini bisa saja sama dengan generasi sebelumnya. Tapi yang dulu tidak memposting dan hanya menjalan beban itu saja,” tambahnya.
Dibalik kerapuhan seseorang, Ia mengatakan bahwa semua kembali ke kondisi keluarga masing-masing. Misal pada anak broken home, masalah kampus bisa jadi sebuah beban berat untuknya. Sedang untuk anak yang tidak ada masalah di keluarga, merasa beban itu biasa.
“Jadi masalah awal dari keluarga ini bisa merembet ke masalah lain yang bisa menjadi beban tambahan untuknya. Selain itu, semua juga tergantung dari mereka sendiri, bagaimana mereka bisa memaknai sebuah konflik yang ada. Jika bisa mengambil sisi positif dari suatu masalah ini akan lebih baik, seperti mengambil pelajaran agar suatu saat tidak seperti keluarganya yang broken home. Berbeda hal nya dengan mereka yang masih belum matang, dimana masih belum bisa menentukan visi misi tujuan kedepannya. Ini akan membuatnya semakin mudah rapuh,” imbuhnya.
Ia juga menambahkan faktor media sosial juga mempengaruhi. Mereka melihat banyak temannya yang mengeluh di sana, dan merasa senasib. Mereka pun bisa mempersonalisasikan apa yang orang lain rasakan kepada dirinya sendiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....