Hidup di Bumi, Menjalani Kehidupan di Dunia
- 13 Jul 2025 06:20 WIB
- Samarinda
KBRN, Samarinda : Dalam program Hikmah Pagi Pro 4 RRI Samarinda, Ustadz Syarif Hidayatullah, KH. S.Pd.I, mengajak kita merenungi sebuah pertanyaan mendasar: "Sebenarnya, kita ini hidup di mana, di bumi atau di dunia?"
Secara fisik, jelas kita hidup di bumi. Namun dalam doa-doa kita, seperti "Rabbanaa aatinaa fid-dunyaa hasanah, wa fil aakhirati hasanah, wa qinaa ‘adzaaban-naar", kita menyebut dunia. Hal ini menunjukkan bahwa ada perbedaan makna antara bumi dan dunia.
Ustadz Syarif menjelaskan bahwa bumi adalah tempat hidup, sementara dunia mencakup keseluruhan kehidupan, baik lahir maupun batin, dunia maupun akhirat. Hidup di bumi ini bersifat sementara, sedangkan kehidupan di dunia (dan akhirat) adalah perjalanan panjang yang akan terus berlanjut.
Allah telah memberikan peran penting bagi manusia di bumi, sebagaimana dalam surah Al-Baqarah ayat 30: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Kita diberi tugas sebagai pemimpin dan pengatur agar tidak merusak bumi.
Dalam Surah Al-Qashash ayat 77, Allah memerintahkan kita untuk menyeimbangkan kehidupan dunia dan akhirat: “Carilah dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia...”,.
Artinya, dunia adalah ladang menuju akhirat. Jangan hanya mengejar dunia, lupakan akhirat. Tapi jangan pula melupakan dunia sepenuhnya. Para ulama mengibaratkan, jika kita menanam padi (akhirat), rumput (dunia) akan ikut tumbuh. Namun jika hanya menanam rumput, kita takkan pernah mendapat padi.
Kehidupan kita tak berhenti di dunia ini. Sebelum di bumi, kita ada di alam ruh dan rahim. Setelah kehidupan di dunia, kita akan masuk ke alam barzakh, kemudian dibangkitkan di padang mahsyar, melewati hari pembalasan, mizan (timbangan amal), hingga menuju surga atau sebaliknya. Ini perjalanan yang amat panjang. Maka, tugas kita adalah mempersiapkan bekal dengan amal baik.
Ustadz Syarif mengingatkan bahwa tugas utama kita di dunia adalah berbuat baik, seperti firman Allah:
“Berbuatlah baik sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu”.
Contoh kecil, saat melihat seseorang jatuh, jangan hanya difoto atau direkam untuk media sosial. Begitu juga dengan orang tua, kadang kita terlalu sibuk berbuat baik di luar, tapi lupa membuat orang tua kita tersenyum di rumah. Padahal, surga bisa saja ada di dalam rumah kita sendiri.
Tak peduli siapa kita pelajar, ASN, pedagang, atau pimpinan setiap kita punya kesempatan berbuat baik. Jangan tunggu momen besar, karena kebaikan bisa dilakukan setiap saat, bahkan dengan hal-hal kecil.
Allah senantiasa berbuat baik kepada hamba-Nya, meski kita kerap lalai dan bermaksiat. Seperti matahari yang tak pilih-pilih siapa yang ia sinari semua mendapatkan manfaatnya.
Menutup tausiyahnya, Ustadz Syarif berpesan bahwa istiqomah adalah hal yang paling berat, namun sangat penting. Dalam perjalanan hidup yang panjang dan penuh godaan ini, kita dituntut untuk tetap konsisten dalam kebaikan, walau orang lain tidak selalu baik kepada kita.
"Tugas kita bukan menilai apakah orang lain baik kepada kita, tapi memastikan kita tetap berbuat baik kepada mereka." Karena pada akhirnya, amal baik itulah yang akan menjadi bekal kita menuju kehidupan yang abadi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....