Sembilan Syarat Diterimanya Amal
- 16 Jun 2025 11:21 WIB
- Samarinda
KBRN, Samarinda : Setiap Muslim tentu berharap agar amal yang dilakukan, baik yang ditujukan kepada Allah Swt. maupun kepada sesama manusia, dapat diterima oleh Allah dan menjadi tabungan kebaikan di akhirat kelak
Kepada RRI, di acara Mutiara Pagi (16/6/2025) Ustaz Sumadi B, S.Hut., ME mengatakan, segala amal yang dilakukan tidak otomatis diterima, namun ada syarat – syarat yang harus dipenuhi. “ Ternyata tidak semua amal tersebut diterima karena ada syarat yang menjadi sebab amal tersebut diterima Allah, “ kata Ustaz Sumadi.
Berikut adalah beberapa sebab diterimanya amal :
1. Beriman kepada Allah Swt.
Syarat utama diterimanya amal adalah iman. Amal baik yang dilakukan oleh orang yang tidak beriman tidak akan bernilai di sisi Allah. Dalam QS An-Nur: 39, Allah berfirman, "Orang-orang yang kafir, amal perbuatan mereka seperti fatamorgana di tanah yang datar. Orang-orang yang dahaga menyangkanya air, hingga apabila ia mendatanginya, ia tidak menjumpai apa pun. (Sebaliknya,) ia mendapati (ketetapan) Allah (baginya) di sana, lalu Dia memberikan kepadanya perhitungan (amal-amal) dengan sempurna. Allah sangat cepat perhitungan-Nya."
2. Ikhlas Karena Allah Swt.
Amal hanya akan diterima jika dilakukan semata-mata karena Allah. Allah berfirman dalam QS Al-Bayyinah ayat 5, “Mereka tidak diperintah, kecuali untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya lagi hanif (istikamah), melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus (benar).
Ikhlas bukanlah hal yang mudah, namun menjadi syarat penting diterimanya amal. Niat harus murni, bukan karena ingin dipuji atau mendapatkan imbalan dunia. Dalam hadis Bukhari dan Muslim disebutkan, "Sesungguhnya amal perbuatan tergantung niatnya."
3. Mengikuti Tuntunan Rasulullah (Itiba')
Setiap amal harus sesuai dengan tuntunan yang diajarkan oleh Rasulullah Saw. Amal yang tidak sesuai dengan sunah Nabi dapat tertolak, meskipun dilakukan dengan niat baik.
Ubay bin Ka’ab mengatakan, "Amal harus ikhlas dan harus sesuai dengan tuntunan (itibā’) Rasulullah."
4. Dilandasi Ketakwaan
Allah hanya menerima amal dari orang-orang yang bertakwa. Takwa adalah gabungan antara rasa takut (khauf) terhadap tidak diterimanya amal, dan harapan (raja’) agar amal tersebut diterima. Dalam kondisi ini, seseorang akan menjaga kesungguhan dalam amal.
5. Melakukan Amal dengan Kualitas Terbaik
Dalam kisah Habil dan Qabil, Allah menerima kurban Habil karena ia memberikan yang terbaik, sedangkan Qabil hanya memberikan seadanya. Memberikan amal terbaik ini Allah firmankan dalam QS QS Al-Ma’idah ayat 27, "Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa."
Selain itu pahala sedekah akan batal karena menyebut-nyebutnya atau menyakiti penerima. Hal tersebut Allah firmankan dalam QS Al-Baqarah: 264, "Wahai orang-orang yang beriman, jangan membatalkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena riya (pamer) kepada manusia, sedangkan dia tidak beriman kepada Allah dan hari Akhir. Perumpamaannya (orang itu) seperti batu licin yang di atasnya ada debu, lalu batu itu diguyur hujan lebat sehingga tinggallah (batu) itu licin kembali. Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan. Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum kafir."
6. Istikamah (Konsisten) dalam Beramal
Kita tidak pernah tahu amal mana yang diterima, maka dari itu kita harus terus melakukan amal kebaikan secara konsisten, dengan senantiasa menyertakan iman dan takwa.
7. Melakukan Amal di Waktu yang Tepat
Waktu juga memengaruhi diterima atau tidaknya amal. Dikisahkan dari hadis Dari Abu Hurairah r.a., bahwa Rasullah Saw bersabda dalam HR Bukhari dan Muslim, "Seorang wanita pezina diampuni oleh Allah. Dia melewati seekor anjing yang menjulurkan lidahnya di sisi sebuah sumur. Anjing ini hampir saja mati kehausan. Si wanita pelacur tersebut lalu melepas sepatunya, dan dengan penutup kepalanya. Lalu dia mengambilkan air untuk anjing tersebut. Dengan sebab perbuatannya ini, dia mendapatkan ampunan dari Allah” . Hal tersebut menunjukkan, amal kecil jika dilakukan di waktu yang tepat, bisa bernilai besar di sisi Allah.
8. Beramal dengan Ilmu
Ilmu adalah fondasi dalam beramal. Tanpa ilmu, amal bisa salah dan tertolak. Ilmu menjadi pendorong sekaligus pembimbing dalam setiap ibadah agar sesuai dengan syariat.
9. Berdoa agar Amal Diterima
Nabi Ibrahim a.s. pun berdoa agar amal ibadahnya diterima oleh Allah. seperti halnya firman Allah Swt. dalam QS QS Al-Baqarah: 127, “Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
Berdoa menunjukkan kerendahan hati dan kepasrahan kita kepada Allah. Kita tidak bisa memastikan bahwa amal kita diterima, tetapi kita bisa terus memohon kepada-Nya agar berkenan menerimanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....