Kisah Wafatnya Imam Bukhari

  • 27 Apr 2025 14:42 WIB
  •  Malang

KBRN, Malang : Imam Bukhari hidup dalam kesederhanaan dan tidak ingin dikelilingi dengan kemewahan, hal ini dikatakan ustadz Nur Cholis, SE diacara Cahyaning Ati Pro 4 RRI Malang.

“Imam Bukhari hidup dalam kesederhanaan dan tidak ingin dikelilingi dengan kemewahan.” Katanya.

Ustadz Nur Cholis menjelaskan bagaimana kronologi wafatnya Imam Bukhari.

Kronologi wafat Imam Bukhari dimulai ketika beliau singgah di Khartand, sebuah desa kecil yang terletak tidak jauh dari Samarkand. Beliau pergi kesana untuk mengunjungi keluarganya. Ditengah perjalanannya, Imam Bukhari jatuh sakit. Penyakit yang beliau derita menyebabkan beliau tidak bisa melanjutkan perjalanannya.

Beberapa hari beliau terbaring sakit di Khartand, dan kondisi kesehatannya semakin memburuk. "Meskipun dalam keadaan sakit, Imam Bukhari tetap memiliki semangat untuk terus mengajarkan ilmu dan memberikan nasehat kepada murid-muridnya.” Jelasnya, Minggu (27/4/2025).

Malam Idul Fitri tahun 256 H menjadi malam terakhir bagi Imam Bukhari. Beliau wafat pada malam yang penuh berkah tersebut, meninggalkan umat Islam dengan banyak ilmu dan hikmah. Jenazah beliau kemudian dimandikan dan dikafani dengan tiga helai kain putih, sesuai dengan wasiat yang beliau berikan sebelum meninggal.

Karena Sebelum wafat, Imam Bukhari memberikan pesan yang sangat dalam kepada keluarganya. Beliau berwasiat agar dikafani dengan tiga helai kain putih, tanpa gamis maupun imamah Wasiat ini menjadi bukti bahwa beliau hidup dalam kesederhanaan dan tidak ingin dikelilingi dengan kemewahan, meskipun beliau telah mencapai posisi yang sangat tinggi dalam dunia ilmiah Islam.

Keluarganya dan murid-muridnya dengan penuh rasa hormat melaksanakan wasiat tersebut dan memastikan bahwa jenazah beliau sesuai dengan pesan yang beliau tinggalkan.

Makam Imam Bukhari juga menjadi tempat yang penuh berkah dan doa, di mana para pengunjung dating untuk menghormati beliau dan mendoakan agar kita semua dapat meneladani keteladanan beliau dalam ilmu, akhlak, dan kesederhanaan hidup. Beliau adalah contoh nyata daris seorang ilmuwan yang tidak hanya mempelajari ilmu tetapi juga mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, serta menyebarkannya kepada umat dengan penuh keikhlasan.

Sebagai seorang ulama, Imam Bukhari juga dikenal sangat menjaga integritas dan kejujurannya dalam mencari dan menyampaikan hadis. Dalam hidupnya, beliau berpegang teguh pada prinsip bahwa setiap ilmu yang disampaikan haruslah dapat dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Oleh karena itu, setiap hadis yang terdapat dalam Sahih al-Bukhari adalah hasil dari seleksi yang sangat ketat dan teliti.

Namun Wafatnya Imam Bukhari juga menjadi pengingat bahwa ilmu yang beliau wariskan akan terus hidup dan bermanfaat sepanjang zaman. Setiap kalimat hadis yang beliau kumpulkan dan setiap ajaran yang beliau sampaikan akan terus memberikan manfaat bagi umat Islam, bahkan setelah beliau meninggalkan dunia ini.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....