Mahasiswa Terdampak Gempa Flores Kesulitan Bayar Biaya Kuliah dan Kos

  • 24 Agt 2026 15:48 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Gempa yang melanda pulau Flores turut mempengaruhi mahasiswa di perantauan, termasuk mahasiswa di wilayah terdampak yang tinggal di kos-kosan. Mereka mengaku kesulitan keuangan karena tidak mendapat kiriman dari Keluarga.

Mahasiswa Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng, Vera Ngijul, mengaku kesulitan membayar biaya registrasi perkuliahan dan kos setelah gempa yang melanda wilayah Flores. Kondisi tersebut diperparah dengan kerusakan rumah keluarganya akibat bencana.

Vera mengatakan, rumah orang tuanya serta rumah neneknya di kampung roboh akibat gempa. Kondisi itu membuat orang tuanya harus memprioritaskan kebutuhan pemulihan dan perbaikan tempat tinggal, sehingga kesulitan memenuhi kebutuhan biaya pendidikan anak.

Selain terdampak secara ekonomi, gempa juga memengaruhi aktivitas perkuliahan. Karena bangunan kampus mengalami kerusakan, mahasiswa saat ini harus mengikuti perkuliahan secara daring.

Vera yang kini tinggal di kos juga mengaku kesulitan memenuhi biaya registrasi sekaligus membayar uang kos. Ia berharap pihak kampus dapat memberikan keringanan biaya registrasi bagi mahasiswa yang terdampak gempa.

”Mungkin dari pihak kampus atau pihak manapun bisa memberikan bantuan untuk kami yang masih sewa, yang terutama yang tinggal di kos dan keluarganya kena dampak dari gempa,” kata Vera saat dihubungi RRI, Senin 24 Agustus 2026. Ia juga berharap adanya bantuan dari pihak lain, khususnya bagi mahasiswa yang masih tinggal di kos sementara keluarganya turut menjadi korban bencana.

Sementara itu Organisasi Kemahasiswaan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), terus mengawal agar pihak kampus memberi keringanan kepada mahasiswa terdampak gempa di Flores. Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) GMNI Kupang, Jacson Marcus, mengatakan pihaknya telah melakukan pendataan terhadap mahasiswa yang terdampak gempa di Kota Kupang.

Data tersebut nantinya menjadi dasar bagi GMNI untuk mendorong setiap perguruan tinggi mengambil kebijakan yang berpihak kepada mahasiswa terdampak. Menurut Jacson, salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian adalah kemungkinan keterlambatan perkuliahan mahasiswa selama masa pemulihan pascagempa.

Selain itu, GMNI mendorong pihak kampus memberikan keringanan biaya registrasi, mengingat banyak orang tua mahasiswa terdampak kehilangan pekerjaan atau sumber pendapatan akibat bencana. “Dari hasil data itu, kita jadikan dasar untuk mendorong setiap universitas mengambil kebijakan-kebijakan strategis,” ujar Jacson.

Jacson menyebut, sejauh ini Universitas Muhammadiyah Kupang telah memberikan konfirmasi terkait upaya penanganan mahasiswa terdampak. Sementara itu, GMNI masih menunggu konfirmasi dari sejumlah perguruan tinggi lainnya untuk mengambil langkah serupa.

Audiensi GMNI di Universitas Muhammadiyah Kupang.

Baik Mahasiswa terdampak maupun GMNI berharap perguruan tinggi dapat memberikan kebijakan khusus selama masa pemulihan, sehingga mahasiswa terdampak gempa tetap dapat melanjutkan pendidikan tanpa semakin terbebani persoalan ekonomi. (DW)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....