Hilangnya Vegetasi Berpotensi Memperbesar Risiko Kekeringan
- 24 Agt 2026 15:55 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Hilangnya tutupan vegetasi di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) berpotensi memperbesar risiko kekeringan. Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga mengurangi kemampuan tanah dalam menyimpan air yang dibutuhkan masyarakat selama musim kemarau.
Akademisi kehutanan Prof. Jeriels Matatula menjelaskan bahwa pohon, tanah, dan air merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam menjaga keseimbangan tata air. Keberadaan vegetasi membantu tanah menerima, menahan, dan menyimpan air hujan sehingga tidak seluruhnya langsung mengalir ke wilayah hilir.
Ketika vegetasi hilang, fungsi tersebut ikut berkurang. Air hujan yang seharusnya meresap ke dalam tanah lebih banyak berubah menjadi aliran permukaan.
Air kemudian bergerak dengan cepat menuju sungai dan pada akhirnya terbuang ke laut. Kondisi ini juga meningkatkan potensi erosi.
Aliran permukaan yang deras dapat mengikis lapisan tanah bagian atas yang kaya bahan organik. Dalam jangka panjang, degradasi tersebut dapat menurunkan kualitas dan kemampuan tanah dalam menyerap serta menyimpan air.
Persoalan tersebut menjadi semakin penting bagi NTT yang memiliki karakter iklim semiarid dengan periode musim kering yang panjang. Air yang tersimpan di dalam tanah selama musim hujan menjadi salah satu penyangga penting untuk menghadapi kebutuhan air ketika curah hujan mulai berkurang.
Apabila kemampuan lahan menyimpan air terus menurun, masyarakat akan menghadapi risiko kekeringan yang lebih besar. Sumber mata air dan sumur dapat mengalami penurunan debit, sementara kebutuhan air untuk rumah tangga, pertanian, dan peternakan tetap berlangsung.
Menurut Prof. Jeriels, menjaga vegetasi bukan semata-mata berkaitan dengan mempertahankan keberadaan pohon. Upaya tersebut merupakan bagian dari menjaga hubungan antara tutupan lahan, tanah, dan ketersediaan air.
Karena itu, pemulihan kawasan yang kehilangan vegetasi perlu menjadi perhatian dalam pengelolaan lingkungan di NTT. Rehabilitasi lahan, penanaman kembali, perlindungan kawasan resapan, serta penerapan pola pemanfaatan lahan yang sesuai dengan kondisi setempat dapat membantu mengembalikan fungsi tata air.
Masyarakat juga memiliki peran penting dalam menjaga tutupan vegetasi di sekitar sumber air dan daerah tangkapan hujan. Pengelolaan lahan yang mempertahankan tanaman dan mengurangi pembukaan lahan secara berlebihan dapat membantu memperlambat aliran air sekaligus mengurangi erosi.
Dengan demikian, menjaga pohon berarti turut menjaga tanah dan air. Di tengah ancaman musim kering yang panjang, mempertahankan vegetasi menjadi salah satu langkah penting untuk meningkatkan ketahanan NTT terhadap kekeringan dan menjaga ketersediaan air bagi masyarakat. (DW)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....