NTT Hadapi Tantangan Kekeringan dengan Pola Iklim 4 Bulan Hujan dan 8 Bulan Kering

  • 24 Agt 2026 08:42 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Nusa Tenggara Timur (NTT) menghadapi tantangan kekeringan yang tidak terlepas dari karakter iklimnya sebagai wilayah semiarid. Pola musim yang cenderung didominasi periode kering membuat masyarakat di provinsi kepulauan tersebut harus beradaptasi dengan keterbatasan air dari tahun ke tahun.

Akademisi kehutanan, Prof. Jeriels Matatula, menyebut masyarakat NTT telah lama hidup berdampingan dengan pola iklim yang secara umum dapat digambarkan sebagai empat bulan hujan dan delapan bulan panas atau kering. Pola tersebut menjadi bagian dari pengetahuan dan strategi masyarakat dalam mengelola sumber daya alam serta memenuhi kebutuhan air.

Namun, tantangan yang dihadapi saat ini semakin besar. Perubahan lingkungan dan meningkatnya tekanan penduduk turut memengaruhi kemampuan wilayah dalam menyediakan dan menyimpan air.

Kondisi tersebut berpotensi memperbesar dampak kekeringan, terutama pada daerah yang memiliki sumber air terbatas. Dalam kondisi semiarid, keberadaan tutupan vegetasi dan kemampuan tanah menyimpan air menjadi sangat penting.

Ketika vegetasi berkurang dan lahan mengalami degradasi, air hujan yang turun selama musim penghujan cenderung lebih cepat menjadi limpasan dan meninggalkan wilayah melalui sungai menuju laut. Akibatnya, cadangan air yang seharusnya dapat tersimpan di dalam tanah menjadi lebih terbatas.

Persoalan tersebut kemudian terasa ketika memasuki musim kemarau panjang. Masyarakat harus mengandalkan sumber-sumber air yang jumlah dan debitnya terus menurun.

Tekanan penduduk juga dapat meningkatkan kebutuhan terhadap lahan dan air. Pembukaan lahan untuk permukiman maupun kegiatan ekonomi, apabila tidak disertai pengelolaan lingkungan yang baik, dapat mengurangi kawasan resapan dan memperburuk kondisi daerah tangkapan air.

Karena itu, adaptasi terhadap kekeringan di NTT perlu dilakukan tidak hanya dengan mencari sumber air baru, tetapi juga dengan memperkuat kemampuan lingkungan dalam menyimpan air. Rehabilitasi lahan, penanaman vegetasi yang sesuai dengan kondisi lokal, perlindungan mata air, serta pengelolaan daerah aliran sungai menjadi langkah penting.

Pengetahuan masyarakat yang telah terbentuk melalui pengalaman menghadapi musim kering juga menjadi modal penting. Kearifan lokal tersebut dapat dipadukan dengan pendekatan ilmiah untuk membangun sistem pengelolaan air yang lebih sesuai dengan karakter semiarid NTT.

Dengan pola empat bulan hujan dan delapan bulan kering, setiap tetes air hujan memiliki nilai strategis. Air yang jatuh pada musim penghujan perlu ditahan dan disimpan sebanyak mungkin agar dapat menopang kebutuhan masyarakat selama periode kering.

Di tengah perubahan lingkungan dan tekanan penduduk yang terus meningkat, pengelolaan lahan dan air secara berkelanjutan menjadi semakin penting. Bagi NTT, menghadapi kekeringan bukan sekadar persoalan bertahan selama musim kemarau, tetapi juga bagaimana memastikan setiap musim hujan mampu menghasilkan cadangan air yang cukup untuk bulan-bulan berikutnya. (DW)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....