Undana Luncurkan Program Pengabdian Skala Besar di Ngada, Fokus Mitigasi Bencana
- 27 Jul 2026 13:27 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Universitas Nusa Cendana atau Undana resmi meluncurkan program pengabdian kepada masyarakat skala besar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Program ini diprakarsai Rektor Undana Prof. Dr. Ir. Jefri S. Bale dan melibatkan 1 tim Guru Besar serta 42 tim dosen dari 9 fakultas dan Program Pascasarjana.
Intervensi program menyasar 15 desa dan kelurahan di 7 kecamatan di Kabupaten Ngada. Salah satu fokus utamanya adalah mitigasi bencana berbasis teknologi.
Kegiatan unggulan dimulai di Desa Beja, Kecamatan Bajawa, Selasa 14 Juli 2026. Program yang diusung adalah pengembangan WebGIS atau Web-based Geographic Information System untuk pemetaan risiko bencana multi-ancaman dan sistem pelaporan lingkungan terintegrasi.
Acara di tingkat desa dibuka Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Undana Dr. Rolland Epafras Fanggidae. Turut hadir Camat Bajawa Stephanus Ferdinandus Helmi Dore dan Kepala Desa Beja Yohanes Sawu. "Ini bagian dari komitmen besar Rektor Undana untuk mendekatkan perguruan tinggi kepada masyarakat melalui solusi berbasis teknologi dan riset," ujar Rolland.
Ngada Rawan Banjir dan Longsor
Dalam pemaparannya, Ketua Tim PKM di Desa Beja Ir. I Made Udiana mengatakan Kecamatan Bajawa memiliki tingkat kerawanan bencana yang tinggi.
Berdasarkan RPJPD Kabupaten Ngada 2025–2045, wilayah ini termasuk kelas bahaya tinggi untuk banjir dengan luas terdampak 2.576 Ha, banjir bandang 512 Ha, dan tanah longsor 9.224 Ha.
Indeks Risiko Bencana Indonesia atau IRBI Kabupaten Ngada tahun 2022 juga mencapai 128,63 dan menunjukkan tren peningkatan signifikan.
Untuk menjawab tantangan itu, tim mengembangkan WebGIS menggunakan teknologi open-source seperti LeafletJS, GeoServer, dan PostgreSQL/PostGIS. Sistem ini bisa diakses gratis dan mudah dipelihara pemerintah daerah.
Peta risiko bencana dihasilkan melalui Weighted Overlay Analysis di QGIS dengan mengintegrasikan 6 parameter: kemiringan lereng, litologi vulkanik, curah hujan tahunan, jenis tanah, tutupan lahan, dan jarak dari sungai.
"Dengan WebGIS ini, warga bisa mengetahui secara akurat zona mana di lingkungan mereka yang berisiko tinggi terhadap banjir, banjir bandang, maupun tanah longsor. Ini membantu kemampuan mitigasi mandiri di tingkat rumah tangga," kata Kepala Desa Beja Yohanes Sawu.
Pemerintah Kecamatan Komitmen Dukung
Camat Bajawa Stephanus Ferdinandus Helmi Dore menegaskan pemerintah kecamatan akan mendukung keberlanjutan program.
"Kami akan mengintegrasikan WebGIS ini ke dalam mekanisme koordinasi penanggulangan bencana di tingkat kecamatan. Kami juga berkomitmen mengalokasikan biaya operasional hosting server dalam anggaran kecamatan," ucapnya.
Tim pelaksana di Desa Beja diketuai Ir. I Made Udiana dengan anggota Ni Putu Nursiani, Dr. I Komang Arthana, dan Robertho Kadji. Robertho juga memaparkan materi Analisis Risiko Bencana Hidrometeorologi di Kecamatan Bajawa.
Dengan program terintegrasi ini, Undana berharap sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan masyarakat semakin erat dalam upaya mitigasi bencana di Ngada.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....