Kupang Book Party: Membaca Buku Bentuk Karakter Kebangsaan
- 01 Jul 2026 09:07 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Di tengah gempuran arus digitalisasi yang masif, budaya membaca kini tidak lagi sekadar tentang aktivitas menambah pengetahuan atau mengisi waktu luang. Lebih dari itu, membaca merupakan instrumen krusial dalam membentuk karakter dan identitas kebangsaan generasi muda.
Hal tersebut ditegaskan oleh Founder Kupang Book Party, Mey Weo, saat menjadi narasumber dalam dialog "Obrolan Kita Indonesia" di Pro 4 RRI Kupang pada Jumat, 26 Juni 2026. Melalui slogan khas lokal “Beta Membaca Maka Beta Ada”, komunitas literasi dari timur Indonesia ini mencoba merefleksikan kembali pentingnya membaca bagi eksistensi karakter bangsa.
"Slogan ini bermakna bahwa untuk bisa eksis, berpikir kritis, atau menyuarakan sesuatu, kita harus memiliki dasar yang kuat melalui membaca. Ada proses informasi yang masuk dan disaring terlebih dahulu sebelum kita memproduksi argumen atau tindakan," ujar Mey.
Mey menjelaskan bahwa karakter kebangsaan bermula dari kualitas personal manusianya. Di era digital saat ini, masyarakat—terutama anak-anak muda—sering kali terpapar informasi yang serba cepat dan instan. Fenomena ini berpotensi mengikis kemampuan berpikir mendalam dan menurunkan rasa empati terhadap lingkungan sekitar.
Lewat budaya membaca buku, seseorang dilatih untuk slow down—berhenti sejenak, melatih kesabaran, serta menelaah informasi secara komprehensif dan cermat.
"Membaca bisa menjadi media detoksifikasi dari paparan dunia digital yang terkadang dipenuhi berita buruk yang memengaruhi psikologis kita. Dengan membaca, kita membangun kemampuan berpikir kritis (critical thinking). Ketika anak muda memiliki jiwa kritis dan empati yang tinggi, di situlah fondasi karakter kebangsaan yang kuat mulai terbentuk," jelasnya.
Lebih lanjut, membaca juga dinilai menjadi kunci utama dalam merawat persatuan di tengah keberagaman Indonesia. Melalui halaman-halaman buku, generasi muda diajak untuk melintasi sekat geografis, mengenal budaya lain, serta memahami berbagai sudut pandang pemikiran. Hal inilah yang mendasari mengapa literasi menjadi faktor pendukung utama dalam menyukseskan kualitas SDM menuju visi Indonesia Emas 2045.
"Bagaimana kita bisa berargumen dengan sehat dan mencintai bangsa ini jika kita tidak tahu apa yang sedang terjadi atau apa yang kita miliki? Semua informasi dan wawasan itu kita dapatkan lewat membaca," tambah Mey.
Guna membumikan karakter kebangsaan yang inklusif, Kupang Book Party yang kini telah merangkul lebih dari 360 anggota ini aktif menggelar berbagai kegiatan seperti silent reading di ruang publik hingga program Goes to School. Melalui gerakan ini, mereka ingin meruntuhkan stigma bahwa membaca adalah kegiatan eksklusif untuk kalangan tertentu saja.
Mey menegaskan bahwa setiap anak bangsa, tanpa memandang latar belakang, memiliki hak yang sama untuk mengakses literasi. "Kami ingin mematahkan stigma 'kutu buku' atau label bahwa membaca hanya untuk orang-orang pintar. Di komunitas ini, semua orang bebas membaca dan berdiskusi. Menghargai perbedaan pendapat dalam diskusi buku juga merupakan bentuk nyata dari penerapan karakter kebangsaan," ungkapnya.
Di akhir Obrolan, Mey berharap gerakan literasi ini mendapat dukungan dari sektor terkecil seperti keluarga hingga pemerintah daerah, salah satunya lewat penyediaan sudut baca di setiap kelurahan agar akses pembentukan karakter lewat buku ini dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat di Kota Kupang. (TT)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....