Anak Komodo Masuk Kampung, BBKSDA NTT Kembalikan ke Habitat
- 09 Apr 2026 05:26 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Nusa Tenggara Timur menangani seekor anak biawak komodo yang masuk ke pondok milik warga di Dusun Londang, Desa Nanga Mbaur, Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur. Satwa yang dilindungi tersebut selanjutnya diperiksa dan dilepasliarkan kembali ke habitat alaminya.
Kepala Balai Besar KSDA NTT, Adhi Nurul Hadi, S.Hut.T.,M.Sc. kepada Wartawan Selasa 7 April 2026 menyampaikan bahwa pihaknya menerima laporan warga terkait kejadian tersebut, Minggu 5 April 2026 sekitar pukul 15.15 WITA setelah seekor anakan komodo ditemukan berada di dalam pondok milik warga. Ia mengatakan informasi tersebut kemudian diteruskan kepada Arsyad, mitra BBKSDA NTT di wilayah Pota, yang segera berkoordinasi dengan petugas untuk penanganan lebih lanjut.

Pose Tim BBKSDA NTT saat melakukan pengukuran terhadap anakan komodo yang masuk pondok warga di Manggarai Timur (Doc. BBKSDA NTT)
Menindaklanjuti laporan tersebut, BBKSDA NTT menurunkan Unit Penanganan Satwa untuk mengamankan dan memeriksa individu komodo itu. Pemeriksaan meliputi pengukuran, pemasangan PIT tag (microchip), serta pengambilan sampel darah.
Berdasarkan hasil identifikasi menunjukkan komodo tersebut memiliki panjang tubuh 42 sentimeter dengan berat 0,08 kilogram dan termasuk dalam kelas umur hatchling atau anakan baru menetas. Pasca diperiksa, komodo tersebut dilepasliarkan kembali ke habitat alaminya di kawasan Watu Pajung, Desa Nanga Mbaur, Kecamatan Sambi Rampas.
Pelepasliaran dilakukan dengan mempertimbangkan kesesuaian habitat dan kondisi individu yang masih sangat muda. Adhi Nurul Hadi, menerangkan bahwa untuk meningkatkan peluang bertahan hidup, komodo tersebut ditempatkan di atas pohon agar lebih aman dari ancaman predator dan memiliki kesempatan beradaptasi lebih baik di alam liar.
Ia mengatakan respons cepat terhadap laporan masyarakat sangat penting dalam penanganan konflik satwa liar, khususnya satwa yang dilindungi.
“Kami mengapresiasi masyarakat yang segera melaporkan kejadian ini. Langkah cepat tersebut sangat membantu upaya penanganan agar dapat dilakukan secara aman, baik bagi warga maupun bagi satwa,” ujarnya.
Adhi menuturkan, kemunculan komodo di sekitar permukiman perlu disikapi dengan hati-hati dan tidak boleh direspons dengan tindakan yang membahayakan satwa.
“Komodo merupakan satwa dilindungi yang harus dijaga bersama. Jika masyarakat menemukan satwa liar di sekitar permukiman, segera laporkan kepada petugas agar penanganannya dapat dilakukan sesuai prosedur,” ucapnya.
Selain melakukan penanganan lapangan, Balai Besar KSDA NTT juga memberikan sosialisasi kepada masyarakat setempat mengenai pentingnya menjaga komodo dan habitatnya. Masyarakat diimbau untuk tidak menangkap, melukai, memelihara, maupun memperdagangkan satwa liar yang dilindungi.
Dalam beberapa waktu terakhir, laporan kemunculan komodo di sekitar permukiman juga tercatat di wilayah Kecamatan Sambi Rampas. Pada 31 Maret 2026, warga Dusun Parasai, Kelurahan Pota, melaporkan seekor komodo berukuran sekitar 1,7 meter yang masuk ke area permukiman dan memangsa seekor anak kambing milik warga.
Merespons laporan tersebut, petugas telah melakukan pemeriksaan lokasi, pengumpulan data lapangan, serta asesmen untuk rencana pemasangan kamera jebak (camera trap) dan kandang perangkap. Biawak komodo merupakan satwa dilindungi berdasarkan ketentuan peraturan perundang undangan yang berlaku.
Balai Besar KSDA NTT mengingatkan bahwa setiap bentuk penangkapan, pelukaan, kepemilikan, perdagangan, maupun pemanfaatan ilegal terhadap satwa dilindungi dapat dikenai sanksi hukum. Upaya perlindungan terhadap komodo dan satwa liar lainnya penting untuk menjaga kelestarian keanekaragaman hayati dan keseimbangan ekosistem, sekaligus mendorong terciptanya hubungan yang lebih aman antara manusia dan satwa liar di wilayah habitat alaminya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....