Balai Bahasa: Diversifikasi Bahasa sebagai Kekuatan Budaya Daerah
- 05 Feb 2026 09:52 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Diversifikasi bahasa dipandang sebagai kekuatan penting dalam menjaga apresiasi budaya daerah di Nusa Tenggara Timur, terutama di tengah arus teknologi dan pergeseran cara berkomunikasi generasi muda. Hal ini mengemuka dalam dialog interaktif RRI Pro 2 Kupang bersama perwakilan Balai Bahasa Provinsi NTT dan Duta Bahasa NTT, Senin, 2 Februari 2026 di segmen Kita Indonesia.
Perwakilan Balai Bahasa NTT, Pangkul Ferdianus, menjelaskan bahwa Balai Bahasa bekerja dalam tiga fokus utama, yakni perlindungan bahasa dan sastra daerah, pembinaan bahasa Indonesia, serta pengembangan kebahasaan melalui kamus, tata bahasa, dan literasi. Ia menegaskan, keberagaman 72 bahasa daerah di NTT merupakan kekayaan kultural yang harus dijaga melalui program nyata dan kolaboratif.
“NTT memiliki 72 bahasa daerah yang kaya makna dan kearifan lokal, dan sangat disayangkan jika ini hilang karena perkembangan zaman,” ujar Pangkul.
Menurutnya, sejak 2022 Balai Bahasa NTT telah menjalankan program Revitalisasi Bahasa Daerah yang menyasar generasi muda melalui sekolah, komunitas, dan ruang apresiasi kreatif. Ia menyebut, hingga kini sekitar 10 bahasa daerah telah direvitalisasi dan tahun ini akan bertambah tiga bahasa di wilayah Belu dan Malaka sebagai daerah perbatasan.
Program tersebut mendorong anak-anak untuk menulis puisi, bercerita, hingga berkomedi tunggal menggunakan bahasa daerah agar rasa bangga terhadap bahasa ibu kembali tumbuh. Pangkul juga menyoroti tantangan punahnya bahasa daerah yang dipicu minimnya transmisi bahasa di keluarga, rasa minder menggunakan bahasa daerah, serta hilangnya kosakata akibat perubahan gaya hidup.
Ia menambahkan, banyak kosakata lokal ikut hilang ketika benda-benda tradisional tak lagi digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
“Bahasa daerah adalah identitas jati diri, di dalamnya ada nilai moral, petuah, syair, dan kearifan yang tidak tergantikan,” tegasnya.
Selain revitalisasi, Balai Bahasa juga aktif menyusun kamus bahasa daerah, menerbitkan buku cerita dwibahasa, dan menggelar lomba penulisan untuk mendorong penggunaan bahasa daerah dalam literasi.
Sementara itu, Duta Bahasa Nasional 2025, Paulus Adityya Ully, melihat diversifikasi bahasa sebagai bentuk penghargaan terhadap keragaman sosial-kultural masyarakat NTT.
Adit menilai generasi muda tidak harus menguasai semua bahasa daerah, tetapi cukup memahami dan menggunakan bahasa yang hidup di lingkungannya. Ia juga menekankan peran media sosial, kunjungan ke sekolah, serta konten digital sebagai strategi mendekatkan isu kebahasaan kepada generasi muda.
“Esensi diversifikasi bahasa adalah bagaimana kita menghargai keberagaman bahasa yang ada dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari,” kata Mahasiswa Teknik Elektro Undana ini.
Keduanya sepakat bahwa bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan bahasa asing harus berjalan beriringan sesuai ranah penggunaannya. Mereka juga mengingatkan bahwa banyak kosakata bahasa daerah NTT telah masuk dalam KBBI, meski belum banyak diketahui masyarakat luas.
Melalui kolaborasi dengan pemerintah daerah, sekolah, komunitas, dan Duta Bahasa, Balai Bahasa NTT menargetkan semakin banyak daerah memiliki regulasi muatan lokal bahasa daerah. Upaya ini diharapkan mampu menjaga wajah linguistik NTT tetap hidup dalam 5 hingga 20 tahun mendatang di tengah derasnya pengaruh bahasa global. (AK)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....