Obrolan Harmoni Ramadan: Kesungguhan di Penghujung Ramadan

  • 18 Mar 2026 23:23 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Rote Ndao - Penghujung Ramadan dinilai menjadi waktu paling penting untuk meningkatkan kesungguhan ibadah. Hal itu disampaikan Penyuluh Agama Islam Kantor Kementerian Agama Kabupaten Rote Ndao, Hayan Bin Baco, dalam Obrolan Harmoni Ramadan Pro 1 RRI Rote, Selasa, 10 Maret 2026.

Hayan menjelaskan akhir Ramadan merupakan puncak dari seluruh rangkaian ibadah puasa. Menurutnya, umat Islam perlu menjaga semangat agar tidak kehilangan keutamaan di hari-hari terakhir.

“Ramadan tentu membutuhkan kesungguhan dan harapan yang kuat kepada Allah,” katanya. Ia menilai orang yang bersungguh-sungguh akan menutup Ramadan dengan hasil ibadah yang lebih baik.

Menurut dia, sepuluh hari terakhir Ramadan menjadi fase paling utama karena di dalamnya terdapat peluang meraih malam Lailatul Qadar. Kesempatan itu, katanya, tidak boleh dilewatkan dengan sikap lalai.

“Kalau kita biarkan dia pergi, kita menunggu tahun depan lagi untuk bisa bertemu dengannya,” ujarnya. Ia mengingatkan tidak ada jaminan setiap orang akan kembali bertemu Ramadan berikutnya.

Ia menambahkan kesungguhan dapat dimulai dengan memperbaiki pemahaman tentang makna ibadah. Pemahaman itu penting agar ibadah tidak dilakukan sekadar rutinitas.

Menurutnya, semangat beribadah juga harus disertai rasa menikmati setiap amalan. Sikap itu akan membantu seseorang tetap konsisten hingga akhir Ramadan.

“Perlu juga ada keistikamahan dalam setiap ibadah,” ucapnya. Ia mengatakan amalan kecil yang dijaga terus-menerus lebih bernilai daripada semangat sesaat.

Hayan juga menekankan bahwa orang yang merasa tertinggal masih dapat memperbaiki diri di penghujung Ramadan. Caranya dengan memperbanyak ibadah malam, zikir, dan memperkuat niat mendekat kepada Allah.

Ia menyebut iktikaf menjadi salah satu amalan utama yang dianjurkan pada sepuluh malam terakhir. Menurutnya, iktikaf membantu menjaga fokus ibadah dari gangguan persiapan menjelang Idulfitri.

“Berjuanglah di akhir-akhir ini, karena bisa menutupi kekurangan sebelumnya,” katanya. Ia menambahkan kesempatan akhir Ramadan tetap terbuka bagi siapa saja yang ingin berubah.

Bagi perempuan yang berhalangan, ia menjelaskan masih banyak amalan yang bisa dilakukan. Zikir, doa, dan membantu menyiapkan kebutuhan keluarga tetap bernilai ibadah.

Menurutnya, Ramadan harus meninggalkan bekas dalam hati dan perilaku sehari-hari. Nilai itu penting agar perubahan tidak berhenti setelah Ramadan berakhir. (NLL)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....