War Takjil Ramadhan Warnai Toleransi Kota Kupang

  • 24 Feb 2026 11:44 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID,Kupang – Bulan suci Ramadhan tahun ini di Kota Kupang diwarnai dengan keberagaman hari raya umat beragama lainnya, seperti Tahun Baru Imlek bagi umat Konghucu dan masa Prapaskah bagi umat Katolik. Nuansa toleransi kembali terlihat dalam tradisi tahunan war takjil yang dipusatkan di depan Gereja Katedral Kristus Raja Kota Kupang.

Setiap sore menjelang waktu berbuka, kawasan tersebut dipadati masyarakat yang berburu takjil. Menariknya, yang datang tidak hanya umat Muslim, tetapi juga warga non-Muslim yang turut meramaikan suasana. Tradisi ini telah menjadi kebiasaan tahunan yang dinanti warga Kota Kupang setiap Ramadan.

Dari sisi keamanan dan kelancaran lalu lintas, Satuan Lalu Lintas Polres Kupang Kota menurunkan personel untuk mengatur arus kendaraan. Kasat Lantas Polres Kupang Kota, Kompol Sudirman, S.Sos, mengatakan pengamanan difokuskan pada jam-jam rawan kepadatan menjelang berbuka puasa.

“Puncaknya itu di jam-jam lima sore. Setengah lima sampai maksimal jam enam. Karena rata-rata jam enam orang sudah di rumah untuk buka puasa,” katanya saat diwawancarai RRI di lokasi Jumat, 20 Februari 2026.

Ia menyebutkan, total sembilan personel dikerahkan dan dibagi di dua titik, yakni di depan Kantor Bupati Lama dan di depan Gereja Katedral Kristus Raja. “Jumlah personel keseluruhan hari ini sembilan orang termasuk saya, terbagi di dua titik. Di sini ada lima personel, di bawah tiga,” ujarnya.

Menurut Sudirman, kepadatan terjadi karena antusiasme masyarakat yang tinggi. “Yang datang ini bukan saja Muslim, tapi seluruh masyarakat Kota Kupang. Ini sudah jadi fenomena tahunan,” katanya. Ia juga mengimbau pengendara untuk tidak parkir sembarangan karena dapat memicu kemacetan, mengingat area parkir terbatas.

Kolaborasi juga dilakukan bersama pemuda setempat untuk membantu mengatur parkir kendaraan. Sudirman menilai semangat kebersamaan ini mencerminkan identitas Kota Kupang sebagai “Kota Kasih”. “Kami imbau pengendara roda dua maupun roda empat untuk tidak parkir sembarangan supaya arus lalu lintas tetap lancar,” katanya.

Sementara itu, Presidium Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Kota Kupang, Sokan Teibang menyebut, momentum war takjil sebagai bentuk nyata toleransi antarumat beragama di Kota Kupang. Ia mengatakan tradisi ini menjadi ruang kebersamaan yang dinikmati semua kalangan.

“Yang menikmati takjil bukan hanya umat Muslim, tapi non-Islam juga turut serta. Ini bentuk toleransi dan kebersamaan yang sudah lama terbangun di Kota Kupang,” ujarnya.

Ia juga mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga persaudaraan dan harmoni yang telah diwariskan para pendahulu. “Mari kita jaga terus persaudaraan, kebersamaan, dan toleransi yang sudah diletakkan dengan baik oleh para senior kita. Kalau ada hal yang kurang berkenan, mari duduk dan bicarakan sebagai orang bersaudara,” katanya.

Meski hujan disertai angin sempat mengguyur kawasan tersebut, semangat penjual dan pembeli tak surut. War takjil tetap berlangsung meriah, menjadi simbol bahwa di Kota Kupang, Ramadan bukan hanya tentang ibadah, tetapi juga tentang merawat toleransi dalam kebersamaan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....